Bardella Menolak Trump: Akhir Ilusi “Imperium” dan Titik Balik Geopolitik Eropa

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Pernyataan Jordan Bardella menolak dukungan Donald Trump bukan sekadar retorika kampanye. Ini adalah pengakuan pahit bahwa era ketergantungan Eropa pada Washington telah berakhir. Trump, yang dulu dipuji Bardella, kini dilihat sebagai ancaman karena visinya yang berubah menjadi “imperium” yang mendominasi Belahan Barat.

[Teks Pernyataan Resmi]: Dalam wawancara dengan Politico yang dirilis Senin lalu, Bardella menyebut perilaku Trump “tidak hanya erratic tetapi juga sangat tidak stabil dan terus berubah.” Dia menggambarkannya inkonsisten, dengan “sikap hari Senin, sikap Selasa, sikap Rabu.” Pemimpin Rassemblement National (RN) berusia 30 tahun itu menegaskan tidak akan mencari dukungan luar, termasuk dari Trump, yang dikenal mendukung politisi seperti Viktor Orban. Dukungan satu-satunya, katanya, adalah rakyat Prancis.

[Niat Geopolitik Sebenarnya]: Ucapan ini menandai pergeseran tajam dari pujian Bardella sebelumnya terhadap Trump. Menurutnya, masa jabatan kedua Trump telah meninggalkan prioritas kepentingan domestik. Kini dibentuk oleh visi AS sebagai kekaisaran. Ini membuat Trump “lebih berbahaya” dan menciptakan ketidakpastian di Eropa. Bardella menunjuk ancaman tarif Trump yang menghasilkan kesepakatan dagang AS-UE tahun lalu. Dia menyebutnya “vassalage ekonomi, keuangan, dan industri.”

Hubungan Washington dengan sekutu Eropa telah tegang sejak Trump kembali berkuasa tahun 2025. Perselisihan berulang tentang perdagangan, belanja pertahanan, regulasi digital, dan Ukraina. Trump berulang kali menuduh anggota NATO Eropa menumpang pada jaminan keamanan AS. Dia mengancam tarif baru untuk blok tersebut. Senin lalu, dia mengatakan akan memberlakukan tarif 100% pada anggur Prancis kecuali Paris mencabut pajak layanan digitalnya yang menargetkan raksasa teknologi AS.

Strategi Keamanan Nasional Trump 2026 menggambarkan UE sebagai tidak dapat diandalkan secara strategis. Dorongannya untuk membeli Greenland dari Denmark juga memperlebar keretakan. Perang AS-Israel melawan Iran menambah gesekan. Washington mengumumkan penarikan 5.000 pasukan dari Jerman. Ancaman pemotongan lebih lanjut di Spanyol dan Italia menyusul kritik terhadap konflik. Bahkan sekutu tradisional Trump di Eropa, seperti PM Italia Giorgia Meloni dan pemimpin bersama AfD Jerman Alice Weidel, semakin menjaga jarak.

Pendulum geopolitik telah bergeser. Eropa, yang diwakili oleh suara nasionalis seperti Bardella, kini terpaksa menghadapi realitas baru: sebuah aliansi Atlantik yang retak, di mana kepastian lama telah digantikan oleh ancaman tarif dan ketidakstabilan yang disengaja. Ketergantungan tanpa syarat adalah kemewahan masa lalu.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang kerap menjadi kontributor bagi surat kabar harian besar Eropa.

Next Post

G Gate Conf 2026: N1 Partners Bongkar Strategi Affiliate untuk Dominasi Pasar Olahraga Digital

Sel Jun 16 , 2026
(AsiaGameHub) –   By: Christian Pierce Pasar affiliate kini terjebak dalam siklus kompetisi harga yang menggerus margin. N1 Partners memilih jalan berbeda dengan fokus pada vertical spesifik: prediksi olahraga. Strategi ini bukan sekadar respons terhadap kejenuhan pasar umum, melainkan upaya mengunci segmen bernilai tinggi sebelum kompetitor menyadari celahnya. Kehadiran di […]