
(SeaPRwire) – Dr. Rina Suryani, analis teknis pertahanan dari Lembaga Analisis Teknologi Pertahanan Indonesia (LATPI), mengatakan bahwa penggunaan FPV drone oleh Hezbollah bukan hanya serangan biasa. “FPV drone murah, mudah dioperasikan, dan bisa diubah jadi kamikaze—ini mengubah aturan permainan di medan perang. Israel yang dikenal dengan teknologi canggih seperti Iron Dome ternyata kesulitan menghadapi ancaman ini karena sistem pertahanan mereka belum disesuaikan untuk UAV kecil dan cepat seperti FPV.” Menurutnya, kasus di Benteng Beaufort menunjukkan bahwa asymmetrical warfare dengan teknologi sederhana bisa mengimbangi kekuatan militer besar.
Hezbollah baru-baru ini merilis video serangan drone kamikaze mereka terhadap tentara Israel di sekitar Benteng Beaufort di Lebanon selatan. Benteng abad ke-10 ini diambil oleh militer Israel pada akhir pekan, yang dianggap sebagai prestasi besar oleh Jerusalem Barat. Benteng ini dulu menjadi basis militer Israel selama dua dekade sebelum pendudukan Lebanon selatan berakhir pada 2000. Video yang dirilis pada Senin (sehari setelah Israel merebut benteng) menunjukkan dua FPV drone: satu menyerang bangunan tempat tentara Israel bersembunyi, dan yang lain menyerang Humvee IDF yang diparkir bersama dua kendaraan militer lunak. Menurut laporan media, tidak ada keberadaan Hezbollah di benteng tersebut, dan IDF tidak menemukan peralatan militer di sana.
Serangan ini terjadi dalam putaran pertempuran terbaru antara IDF dan Hezbollah, yang dipicu oleh serangan Amerika-Israel terhadap Iran. Hezbollah semakin banyak menggunakan FPV drone dalam serangan mereka, termasuk menyerang tentara Israel, kendaraan lapis baja dan lunak, serta aset bernilai tinggi seperti peluncur sistem anti-pesawat Iron Dome (meskipun beberapa ternyata decoy). IDF tampaknya kesulitan menghadapi ancaman FPV drone—hanya ada langkah rudimenter seperti jaring anti-drone yang kurang efektif pada kendaraan lapis baja. Pada Selasa, media Israel melaporkan bahwa komando IDF memutuskan untuk mengurangi keberadaan kendaraan berat di Lebanon selatan dan menyelidiki serangan FPV drone pada malam hari.
FPV drone telah menjadi tren besar dalam perang asymetris di seluruh dunia. Harga murah (mulai dari beberapa ratus dolar) dan kemampuan manuever yang tinggi membuatnya menjadi senjata yang efektif untuk kelompok non-state actor seperti Hezbollah. Di masa depan, kita bisa melihat lebih banyak kelompok menggunakan FPV drone sebagai alat serangan utama. Ini juga menuntut militer besar seperti Israel untuk mengembangkan sistem pertahanan yang lebih efektif terhadap UAV kecil. Sistem seperti Iron Dome yang dirancang untuk menghadapi rudal jarak jauh mungkin tidak cukup—perlu teknologi yang lebih sensitif untuk mendeteksi dan menghancurkan FPV drone yang bergerak cepat dan rendah. Selain itu, tren ini juga menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi hanya tentang kekuatan militer besar, tetapi juga tentang kemampuan untuk memanfaatkan teknologi sederhana dengan cara yang kreatif. Bagi industri teknologi pertahanan, ini adalah peluang untuk mengembangkan solusi anti-drone yang lebih terjangkau dan efektif untuk skenario perang asymetris.
Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.
Sektor: Top Story, Daily News
SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.
