Purwokerto – Psikolog dari Biro Psikologi Metafora Purwokerto Ketty Murtini mengatakan, berbagai aktivitas yang dilakukan bersama saat bulan Ramadhan akan memperkuat hubungan keluarga.

"Berbagai aktivitas yang dilakukan bersama saat Ramadhan akan memperkuat hubungan keluarga sekaligus memberikan dampak psikologis yang positif bagi anak," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.

Baca juga: Keluarga solid bisa manfaatkan pandemi untuk kuatkan hubungan

Dia mengatakan selain kegiatan ibadah yang dilakukan bersama-sama, menghabiskan waktu berbuka dan sahur bersama juga akan meningkatkan intensitas komunikasi keluarga. "Komunikasi keluarga intensif pada bulan Ramadhan dapat berlangsung saat buka puasa dan sahur bersama," katanya.

Terlebih lagi, kata dia, kondisi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung pada saat ini masih mengharuskan masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan banyak berada di rumah masing-masing.

"Kondisi pandemi seperti sekarang ini yang membuat masyarakat harus membatasi aktivitas di luar rumah menjadikan momentum Ramadhan dapat makin dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi nggota keluarga," katanya.

Baca juga: PMI buka layanan pemulihan hubungan keluarga korban pesawat jatuh

Dia mencontohkan, kegiatan buka puasa dan sahur bersama bisa dimanfaatkan secara optimal. "Pada saat buka puasa dan sahur bisa digunakan untuk ngobrol dan bisa dimanfaatkan untuk saling mencurahkan keluh kesah," katanya.

Selain mempererat hubungan keluarga, kata dia, kegiatan ibadan bersama saat Ramadhan juga dapat mengasah iman anak dan mengajarkan anak tentang ibadah, sedekah dan kepedulian pada sesama anggota keluarga.

Sebelumnya, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Dr. Wisnu Widjanarko juga mengingatkan pentingnya komunikasi keluarga dalam membentuk karakter seorang anak.

"Komunikasi yang baik nggota keluarga akan menciptakan iklim rumah tangga yang positif sehingga anak merasa nyaman dan betah di rumah," katanya.

Baca juga: Hubungan ibu-anak yang baik bisa hindarkan perilaku negatif

Dia menjelaskan, komunikasi yang kurang intensif rentan menyebabkan terjadinya disfungsi komunikasi, baik ibu dan ayah ataupun orang tua dengan anak.

"Disfungsi komunikasi menjadikan kualitas rumah tangga menjadi rentan, sehingga kondisi rumah tangga menjadi kurang harmonis, iklim di rumah menjadi tidak nyaman, kebersamaan menjadi sesuatu yang sulit terjadi, dan anak bisa merasa tidak 'happy' di rumah," katanya.

Baca juga: Menteri PMK: Harganas momentum merekatkan hubungan kekeluargaan

Karena itu, kata dia, komunikasi keluarga menjadi penting, misalnya mau saling mendengar, saling memahami sudut pandang dan menerima perbedaan. ***3***
T.W004