Waspada! BMKG Sebut La Nina Sedang Berkembang di Samudra Pasifik

https: img.okezone.com content 2020 10 04 337 2288059 waspada-bmkg-sebut-la-nina-sedang-berkembang-di-samudra-pasifik-CHEWUF0mVL.jpg

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan anomali iklim La-Nina sedang berkembang.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal mengatakan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5 dejarat Celsius, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.

“Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada Agustus dan -0.9°C pada September 2020,” kata Herizal dalam keterangannya kepada Okezone di Jakarta, Minggu (4/10/2020).

Ia melanjutkan BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang), memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir 2020.

“Diperkirakan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021,” bebernya.

Lebih jauh ia memaparkan, catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya.

Namun, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.

“Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara, dan Papua,” katanya.

Sementara pada Oktober ini beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan, di antaranya Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten.

Setelahnya sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

“Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor,” imbuh Herizal.

Herizal mengharapkan agar para pemangku kepetingan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Baca Juga : Fenomena La Nina Muncul di Pasifik, BMKG Minta Warga Waspada Banjir dan Longsor

“Masyarakat diimbau terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” tuturnya.

1
2

  • #cuaca
  • #Cuaca ekstrem
  • #La Nina
  • #BMKG

Next Post

Peristiwa 4 Oktober: Banjir Bandang Terjang Wasior hingga Maluku Utara Jadi Provinsi

Ming Okt 4 , 2020
JAKARTA – Berbagai peristiwa dan penting dan bersejarah terjadi pada 4 Oktober. Untuk mengingatnya kembali, Okezone merangkum beberapa peristiwa yang terjadi 4 Oktober mengutip dari Wikipedia, sebagai berikut ini : 1999 – Maluku Utara resmi menjadi provinsi Provinsi Maluku Utara resmi terbentuk pada 4 Oktober 1999, melalui UU RI Nomor […]