Waduh! 14% Warga Bogor Nilai Virus Corona Buatan Manusia

https: img.okezone.com content 2020 09 11 338 2276521 waduh-14-warga-bogor-nilai-virus-corona-buatan-manusia-XO8gfIHY5K.jpg

BOGOR – Nanyang Technologi University (NTU) Singapura melakukan riset ‘Survei Persepsi Risiko Covid-19’ secara virtual di Balai Kota Bogor, Jumat (11/9/2020). Salah satu hasilnya adalah tingkat edukasi warga Kota Bogor terkait covid-19 rendah.

Associate Professor NTU Kolaborator Saintis laporcovid19, Sulfikar Amir mengatakan survei ini melibatkan 21.544 warga Kota Bogor sejak 15 Agustus hingga 1 September 2020. Ada enam poin surveu yakni persepsi resiko, pengetahuan, informasi, perlindungan diri, modal sosial dan ekonomi.

“Poin mengenai pengetahuan bernilai 3,05 dari nilai maksimal 5 dan nilai mengenai informasi 3,06. Artinya tingkat pengetahuan dan informasi mengenai pandemi masih rendah dan harus ditingkatkan, dengan memanfaatkan sumber informasi yang dipercaya oleh publik,” kata Amir, dalam paparanya.

 Korban Covid-19

Namun, dinilai dari kesadaran masyarakat untuk menjaga diri dari terpapar vcovid-19 sudah cukup baik dengan nilai 4,02. Sedangkan, untuk poin modal sosial dan ekonomi, masyarakat Kota Bogor ternyata terdampak cukup tinggi dengan nilai 2,96 untuk poin ekonomi dan 3,07 untuk poin modal sosial.

“Kondisi sosial masyarakat cukup memprihatinkan dan memiliki dampak yang signifikan terhadap rendahnya persepsi secara umum,” ungkap Amir

Kemudian, poin mengenai persepsi resiko di Kota Bogor juga masih rendah. Dimana, masyarakat cenderung menilai kalau dirinya tidak akan terpapar covid-19 dengan skor 2,79 dari nilai maksimal 5.

“Secara kolektif warga Kota Bogor menganggap remeh resiko penularan covid-19,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, WaliKota Bogor Bima Arya Sugiarto mengaku hasil survei itu menyadarkan jajarannya akan kelemahan memberikan sosialisasi. Sehingga, Pemkot Bogor akan lebih memperkuat edukasi secara maksimal dengan melibatkan dokter dan tokoh agama sehingga diharapkan masyarakat lebih sadar dan paham bahwa Covid-19 itu nyata.

“Pemkot akan memperkuat protokol kesehatan yang kolaboratif dengan semua pihak,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Bima hasil riset juga menunjukan bahwa Kota Bogor memiliki modalitas sosial yang luar biasa berupa solidaritas yang kuat antar sesama warga. Untuk itu program Jaga Asa (Jaringan Keluarga Asuh Kota) akan digencarkan kembali, dimana keluarga yang mampu secara ekonomi bisa membantu keluarga yang memang membutuhkan.

“Jadi bisa dibayangkan ketika tidak teredukasi, tidak paham dan terpapar secara ekonomi, kemudian kita terapkan PSBB secara ketat tanpa dibantu secara ekonomi, maka tidak mungkin. Selain itu penerapan PSBB membutuhkan jumlah personil, anggaran dan bantuan sosial yang cukup. Berdasarkan hasil riset, sebanyak 50 persen bingung covid-19 buatan manusia atau bukan. Bahkan yang percaya covid-19 buatan manusia sebanyak 14 persen,” jelasnya.

Hasil survei ini pun akan dijadikan landasan bagi Pemerintah Kota Bogor untuk mengambil kebijakan pemberlakuan PSBMK secara maksimal yang akan diumumkan pada Senin 14 September 2020.

“Yang pasti kita tidak mungkin lockdown seperti Jakarta. Pak gubernur Jabar juga menyarankan melanjutkan PSBMK karena berhasil mengelola itu dari zona merah ke oranye,” pungkas Bima.

1
2

  • #Covid-19
  • #Indonesia Lawan Corona
  • #Corona Virus
  • #Virus Corona
  • #Pemkot Bogor

Next Post

Weekend, Cuaca Jakarta Cerah Berawan

Sab Sep 12 , 2020
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca wilayah DKI Jakarta berawan, Sabtu (12/9/2020). Berdasarkan informasi dari laman resmi BMKG cuaca cerah berawan diperkirakan terjadi pada pagi hingga sore hari di seluruh wilayah Ibu Kota.   Pada malam hingga dini hari, cuaca berawan diperkirakan akan mendominasi, kecuali wilayah […]