Varian Baru Covid-19 Ditemukan, Sejumlah Negara Larang Penerbangan dari Inggris

https: img.okezone.com content 2020 12 21 18 2331217 varian-baru-covid-19-ditemukan-sejumlah-negara-larang-penerbangan-dari-inggris-RJIX5lIDp5.jpg

SEJUMLAH negara Eropa telah menerapkan dan mempertimbangkan larangan terbang dari Inggris untuk mencegah penyebaran varian baru virus corona. Belanda dan Belgia melarang penerbangan dari Inggris. Layanan kereta dari London ke Belgia juga dihentikan.

Menteri luar negeri Italia mengisyaratkan pemerintahnya akan melarang penerbangan dari Inggris. Prancis dan Jerman dilaporkan mempertimbangkan kebijakan serupa. Varian baru Covid-19 ini menyebar dengan cepat di London dan kawasan Inggris tenggara.

Penyebaran cepat ini membuat angka kasus naik tajam, yang mendorong Perdana Menteri Boris Johnson menerapkan karantina wilayah untuk London dan Inggris tenggara pada Sabtu 19 Desember 2020 petang. Para pakar mengatakan varian ini memiliki tingkat penyebaran 70% lebih tinggi.

Baca Juga:  Kualitas Vaksin Sinovac Disorot, Apa Kata Satgas Covid-19?

Terhitung mulai hari Minggu 20 Desember 2020, London dan kawasan Inggris tenggara masuk dalam kategori 4 (tier 4), kategori pembatasan yang tertinggi, hingga tanggal 30 Desember. Kebijakan baru ini berdampak pada sekitar 17,7 juta orang yang tinggal di kawasan London dan Inggris tenggara.

Pembatasan diterapkan menyusul penemuan varian baru virus corona dengan tingkat penyebaran 70% lebih cepat dari virus corona yang dikenal selama ini.

“Berdasarkan bukti awal yang kita miliki tentang varian baru virus ini, potensi risiko, dengan hati berat saya harus mengatakan kepada Anda bahwa kita tidak bisa merayakan Natal sesuai rencana sebelumnya,” kata Boris Johnson dalam jumpa pers virtual di Downing Street pada Sabtu petang 19 Desember 2020. 

Baca Juga: Efektivitas Vaksin Sinovac terhadap Imunitas Disebut Rendah, Ini Kata Kemenkes

Dengan pembatasan ini, warga tak dibolehkan melakukan perjalanan memasuki wilayah tier 4, kecuali untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat sangat khusus.

Tadinya pemerintahkan memberikan kelonggaran selama lima hari untuk memberi kesempatan kepada warga untuk merayakan Natal.

Mestinya pembatasan diterapkan lebih cepat

Pengetatan baru ini dalam praktiknya membuat warga tidak bisa berinteraksi secara fisik dengan rumah tangga lain. Semua toko yang tidak menyediakan kebutuhan pokok atau layanan penting harus tutup. Perjalanan juga dibatasi.

Para pejabat mengatakan varian baru virus corona tidak lebih mematikan. Diyakini pula bahwa varian baru ini tidak membuat vaksin atau perawatan yang ada saat ini menjadi kurang efektif.

Kepala penasihat sains pemerintah, Sir Patrick Vallance, mengatakan varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris mungkin berkembang di negara itu sendiri atau mungkin juga ada di negara-negara lain.

“Virus bermutasi setiap waktu, terjadi banyak mutasi di dunia, yang di sini adalah konstelasi perubahan-perubahan khusus yang kami pandang penting”.

Ditambahkan perlu ditempuh upaya gobal untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada varus corona ini. Menanggapi pengumuman baru perdana menteri, Sir Keir Starmer, pemimpin Partai Buruh yang beroposisi, mengatakan “jutaan keluarga akan patah hati karena rencana Natal mereka terkoyak-koyak.”

Padahal, menurutnya, ia sudah mengangkat risiko pelonggaran Natal itu dengan Boris Johnson pada Rabu lalu, tetapi ketika itu perdana menteri tetap kukuh pada janjinya untuk melonggarkan pembatasan selama Natal.

“Pengumuman hari ini hanya akan menimbulkan kebingungan pada saat warga memerlukan kepastian,” kata Sir Keir Starmer dan meminta pemerintah untuk menunjukkan “kepemimpinan yang tegas”.

Wales juga menerapkan karantina wilayah terhitung mulai Minggu 20 Desember. “Kita tahu, 2021 akan berbeda dan situasinya akan lebih baik. Ekonomi akan pulih dan kita akan bisa lagi meratakan Natal,” kata Mark Drakeford, menteri utama Wales.

Hingga Sabtu 19 Desember, data pemerintah Inggris menunjukkan terdapat 2.004.219 kasus positif dan jumlah mereka yang meninggal dunia mencapai 67.075 orang.

Namun, data itu hanya mencakup mereka yang meninggal dunia dalam waktu 28 hari sesudah positif virus corona dan penghitungan-penghitungan lain menunjukkan jumlah kematian lebih tinggi. Kasus harian yang terus naik membuat bertambahnya jumlah kasus secara total. Pada hari Sabtu 19 Desember saja, kasus positif bertambah 27.052.

Inggris menduduki urutan keenam dari negara-negara dengan jumlah korban meninggal terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Brasil, Rusia dan Prancis, menurut data yang dihimpun Johns Hopkins University.

1
2

  • #Inggris
  • #Covid-19
  • #Corona Virus
  • #Virus Corona
  • #Covid-19

Next Post

Berikut Prokes Covid-19 yang Harus Diperhatikan Selama Libur Nataru

Sen Des 21 , 2020
JAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 merilis surat edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Hari Raya Natal dan Menyambut Tahun Baru 2021 dalam Masa Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Surat edaran itu diperuntukkan bagi bagi bara pelaku perjalanan. Dalam surat edaran […]