Tak Optimal Lakukan 3T saat Pandemi Covid-19, Epidemiolog: Seperti Menyimpan Bom Waktu

https: img.okezone.com content 2020 09 02 337 2271171 tak-optimal-lakukan-3t-saat-pandemi-covid-19-epidemiolog-seperti-menyimpan-bom-waktu-jRyhQhIH7l.jpg

JAKARTA – Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan agar pemerintah daerah mengoptimalkan kebijakan testing, tracing, dan treatment (3T) guna mengendalikan pandemi Covid-19.

Dicky menerangkan, 3T ini merupakan strategi utama dalam memutus laju penyebaran kasus Covid-19 di Tanah Air.

 Baca juga: Resmikan Tugu Peti Mati, Gubernur Anies: Ini Peringatan Tentang Bahaya Covid-19

Testing dilakukan untuk mencari dan mengidentifikasi kasus Covid-19. Tracing bertujuan untuk menelusuri kasus di satu daerah. Sementara treatment merawat atau mengisolasi warga yang terpapar corona.

“Untuk secara nasional ini pelajaran penting di luar Jawa. Termasuk juga di Jawa sekali pun melihat apa yang terjadi di Jakarta ini menjadi penting, karena Jakarta penduduknya 10 juta. (Sementara) Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur itu jauh lebih besar. Mereka cakupan testingnya jauh lebih rendah dari Jakarta,” kata Dicky saat dihubungi Okezone, Rabu (2/9/2020).

 Baca juga: Kabupaten Bogor Laporkan 34 Kasus Rekor Baru Positif Corona, 2 Balita

Dicky mengingatkan, pemerintah daerah yang tidak optimal melakukan 3T seperti menyimpan bom waktu yang mengakibatkan ledakan kasus Covid-19. WHO juga telah menetapkan testing corona minimal dilakukan 1 tes per 1.000 penduduk dalam sepekan guna mengendalikan kasus Covid-19.

“Ini jauh lebih berbahaya (seperti) menyimpan bom waktu, bila tidak segera dilakukan perbaikan dalam performa mereka. Ini artinya kasus yang jauh lebih serius dari pada yang terjadi di Jakarta saat ini,” jelas Dicky.

 

Ia pun mengingatkan bahwa kapasitas, layanan rumah sakit, hingga sumber daya manusia (SDM) di bidang tenaga medis di daerah tidak sebaik yang ada di Ibu Kota.

Menurut dia, ledakan kasus Covid-19 bisa mengakibatkan tingginya kematian kepada kelompok warga yang berisiko tinggi Covid-19.

“Dan ini yang harus jadi evaluasi dengan sangat serius. Belum lagi dilihat dari SDM kesehatannya. Dan ini yang harus dilihat supaya tidak terjadi lonjakan kasus yang berbuntut lonjakan kematian,” tandasnya.

1
2

  • #Pemprov DKI Jakarta
  • #Indonesia Lawan Corona
  • #Corona Virus
  • #Virus Corona
  • #Covid-19

Next Post

Tekan Kasus Covid-19, Pemprov DKI Harus Bekerjasama dengan Daerah Penyangga

Rab Sep 2 , 2020
JAKARTA – Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, Pemprov DKI Jakarta harus bekerjasama dengan daerah penyanggah ibu kota guna menekan kasus Covid-19. Dicky menerangkan, tingginya kasus Covid-19 di DKI Jakarta bukan berarti Pemprov DKI bekerja buruk dalam mengendalikan pandemi. Namun, lanjut dia, tingginya kasus Covid-19 lantaran massifnya DKI […]