Sengkarut Data Covid-19 Pusat vs Daerah

https: img.okezone.com content 2020 12 01 337 2319817 sengkarut-data-covid-19-pusat-vs-daerah-bafUVezZBi.jpg

SEMARANG – Sengkarut beda data kasus Covid-19 antara Pemerintah Pusat dengan Provinsi Jawa Tengah menjadi perhatian serius. Sebab, kesahihan data sangat berpengaruh pada kebijakan yang diambil dalam melakukan penanganan.

“Ini harus segera ada sinkronisasi data. Karena dampaknya sangat besar dalam penanganan pandemi,” kata pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Rebriarina Hapsari, Selasa (1/12/2020).

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik FK Undip ini mengaku heran karena perbedaan data antara Pemerintah Pusat dengan daerah khususnya Jawa Tengah yang terlalu tinggi. Apalagi, sampai ditemukan adanya data dobel dalam rilis itu.

“Ini harus dilacak darimana, kok bisa beda dan sampai dobel datanya. Harus ditemukan data dari lab mana, siapa yang mengirim kok sampai begitu,” imbuhnya.

Hapsari mengatakan, selama ini laporan selalu dikirimkan dari laboratorium ke Pusdatin Kemenkes. Mestinya, Pemerintah Pusat melakukan verifikasi dan validasi terkait data yang masuk dari seluruh laboratorium di Indonesia.

“Tapi ini tentu butuh waktu lama, karena tidak hanya sehari dua hari untuk proses verifikasi data itu. Jadi memang pilihannya mau cepat atau real time tapi terjadi seperti ini, atau mau lama tapi akurat,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, terjadi perbedaan data cukup tinggi kasus positif Covid-19 antara Pemerintah Pusat dan Provinsi Jateng. Dalam rilis tersebut, Satgas Covid-19 menyebut Jateng menjadi provinsi tertinggi kasus positif Covid-19 pada 29 November dengan penambahan sejumlah 2.036. Padahal, data penambahan kasus yang sebenarnya di Jateng pada hari yang sama hanya 844.

Setelah dicek, ternyata banyak ditemukan data yang dobel sebanyak 519 kasus. Dari jumlah itu, ada satu nama yang diinput hingga lima kali, sehingga total dobel data yang ditemukan sebanyak 694 kasus. Selain itu, ada juga 75 orang yang pada pekan sebelumnya sudah dirilis, kembali dirilis pada pekan kemarin. Juga, ditemukan ada data yang sebenarnya sudah diinput sejak Juni, namun baru dirilis.

Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito enggan memberikan komentar banyak. Wiku menerangkan bahwa persoalan beda data ini adalah ranah Kemenkes.

“Satgas hanya melakukan analisis data saja yang bersumber dari Kemenkes sehingga perbedaan data ini mohon dikonfirmasikan langsung pada Pusdatin Kemenkes,” ucapnya singkat.

(kha)

  • #Satgas Covid-19
  • #Covid-19
  • #Corona Virus
  • #Virus Corona

Next Post

Menakar Peluang Fadli Zon dan Sandiaga Uno Jadi Menteri KKP Gantikan Edhy Prabowo

Rab Des 2 , 2020
JAKARTA – Nama dua kader partai Gerindra yaitu Fadli Zon dan Sandiaga Uno digadang-gadang sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) setelah Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin menilai kedua nama yang kader Gerindra itu pantas saja menduduki […]