Petani Buah di Jepang Pekerjakan Burung Hantu sebagai Pengendali Hama

https: img.okezone.com content 2020 12 08 18 2324075 petani-buah-di-jepang-pekerjakan-burung-hantu-sebagai-pengendali-hama-aGIyKO1GCl.jpg

JEPANG – Banyak cara yang bisa digunakan untuk menjaga hasil kebun atau pertanian dari hama. Biasanya para petani menggunakan orang-orangan sawah atau zat kimia seperti pestisida.

Namun petani di Jepang memilih cara yang berbeda. Selama berabad-abad, banyak petani mengandalkan burung hantu untuk menjaga pertanian atau kebun mereka dari tikus ladang di Jepang.

Petani apel Jepang adalah orang pertama yang menyadari efek menguntungkan predator bersayap itu di kebun. Mereka pun secara aktif mencoba menggunakannya sebagai cara alami mengentaskan hama.

Burung hantu ural diketahui telah membuat sarang mereka di kebun dengan populasi hewan pengerat yang tinggi untuk waktu yang sangat lama. Nama burung hantu ural diambil dari nama Pegunungan Ural di Rusia.

Selain mengizinkan burung hantu untuk membuat sarang di cekungan pohon, mereka juga mulai memasang rumah pohon buatan untuk mendorong burung hantu agar tidak menetap di properti mereka.

Mereka langsung menyadari jika burung hantu bisa menurunkan populasi tikus secara signifikan, yang berarti pohon lebih sehat dan keuntungan lebih besar.

Seperti diketahui, buah-buahan baru adalah bisnis besar di Jepang. Jadi petani tidak boleh kehilangan sebagian besar produksinya.

Dikutip laman Oddity Central, penggunaan burung hantu ural dirasa menguntungkan karena penggunaan pestisida atau bahan kimia lainnya tidak selalu menjadi pilihan, terutama di pertanian organik.

Penelitian pun menunjukkan predator malam sangat efisien untuk menjaga hama yang menganggu itu.

Melalui penelitian pada 2018, tim ilmuwan Jepang menghitung efek pengendalian hama burung hantu Ural yang berkembang biak di kebun apel. Penelitian ini menemukan jika predator malam hari itu bisa mengurangi populasi tikus di wilayah perkembangbiakan mereka yang diperkirakan sebesar 63%, dibandingkan dengan kebun yang tidak memiliki burung hantu.

“Karena burung hantu ural yang berkembang biak memberikan efek pengendalian hama yang signifikan di dalam wilayah perkembangbiakan mereka, pengenalan kembali pasangan burung hantu ural yang berkembang biak di dalam kebun akan berkontribusi pada pengendalian hama hewan pengerat,” tulis penelitian.

“Mempromosikan reproduksi raptor asli di area pertanian dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan pengelolaan hama terpadu sekaligus menjaga keanekaragaman hayati regional,” jelasnya.

Seekor burung hantu diketahui dapat berburu hingga 10 tikus per malam. Pada saat burung berkembang biak, keefektifannya juga meningkat.

Tak hanya di Jepang, kebun anggur dan kebun buah-buahan di Amerika Serikat (AS) juga telah menggunakan burung hantu selama beberapa dekade. Namun burung hantu bukanlah satu-satunya burung yang dapat menggantikan pestisida. Di Thailand, mereka menggunakan kawanan besar bebek lapar untuk membersihkan sawah dari hama.

(amr)

  • #Petani Lawan COVID-19
  • #Petani Mienial
  • #Burung hantu

Next Post

Cegah Kecelakaan, Perlintasan Liar di Stasiun Kramat-Pondokjati Ditutup

Rab Des 9 , 2020
JAKARTA – PT KAI Daop 1 menutup perlintasan liar di KM 9+685 antara Stasiun Kramat-Pondokjati pada Selasa 8 Desember 2020 malam. Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi kecelakaan. “Untuk mengurangi kecelakaan di perlintasan sebidang,” kata Kepala Humas PT KAI Daop 1, Eva Chairunisa dalam keterangan resminya, Rabu (9/12/2020). Baca Juga:  PT KAI Tuntut […]