Miris, Awalnya Kaya Raya, Miliarder Ini Gantungkan Hidup pada Bank Makanan

https: img.okezone.com content 2020 12 03 18 2321205 miris-awalnya-kaya-raya-miliarder-ini-gantungkan-hidup-pada-bank-makanan-IbfohB6YrB.jpg

INGGRISPandemi Covid-19 tidak hanya menghantam kalangan menengah ke bawah, tapi juga beberapa kelompok atas,

Begiu juga yang terjadi di Inggris. Mereka kehilangan pekerjaan, pendapatan, tabungan selama bertahun-tahun, menjual rumah yang cukup mewah, hingga menjual furnitur rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bahkan banyak yang harus menggantungkan hidupnya pada badan amal seperti bank makanan. Seperti yang dialami Faye Davies Fuller yang tinggal di rumah seharga 1,6 juta poundsterling (Rp30 miliar) di London. Faye yang bekerja sebagai produser eksekutif lepas benar benar merasakan dampak pandemi.

Suaminya, Darren, agen real estat, di-PHK, yang berarti penghasilannya turun 20 persen. Faye mengatakan rumah tangganya kehilangan hampir 70 persen dari pendapatan.

(Baca juga: Jika Manusia Tidak Berburu, 240 Burung Tidak Bisa Terbang Tidak Akan Punah)

Tabungan mereka habis. Mereka pun menjual perabot, barang elektronik, dan bahkan pakaian. Saking putus asanya memberi makan ketiga anaknya, Faye dan suami meminta bantuan Biro Nasihat Warga setempat pada Agustus lalu.

Dia mendapatkan pilihan paket makanan atau voucher yang bisa dia tukarkan dengan barang di bank makanan lokalnya.

“Saya merasa sangat malu sampai seperti ini. Saya tidak tahan membayangkan seseorang dari daerah yang kurang makmur, atau rumah yang lebih kecil, muncul di depan pintu saya dengan bekal dan berpikir: Apa yang mereka lakukan meminta parsel makanan ketika mereka tinggal di rumah besar ini?” katanya, dikutip Daily Mail.

Rasa malu juga dialami seorang ibu, yang kehilangan pekerjaannya di perusahaan ritel besar. Saking malunya, dia bertanya apakah parsel makanannya bisa dikirim di malam hari, agar para tetangga tidak melihatnya. Rumahnya yang besar di London Barat, yang ditinggali selama 15 tahun, akan dijual.

Lowri Williams, 49, juga mengalami kesulitan keuangan karena pembatasan Covid. Dia terpaksa “mengelaurkan” anaknya dari sekolah swasta karena tak mampu membayar. Saat ini keluarganya juga bergantung pada bank makanan.

Sebelumnya Lowri bekerja sebagai manajer proyek untuk perusahaan yang mengadakan konferensi dan even langsung, yang dihentikan sejak Maret lalu.

Sejak Mei, Lowri secara rutin mengunjungi bank makanan yang dijalankan sebuah gereja di Blackpool. Di sini dia mengambil bahan makanan senilai 20 poundsterling (Rp389.000). Termasuk roti, pasta, makanan kaleng, biskuit, dan beberapa makanan siap beku lainnya.

Ibu beranak satu Sophia Waterfield, 31, yang bekerja sebagai penulis lepas juga merasakan dampak pandemi. Dia harus kehilangan pekerjaan karena harus menjaga anaknya yang berusia dua tahun yang harus karantina mandiri setelah gurunya dicurigai terkena Covid-19. Dia pun bergantung pada bank makanan lokal People’s Pantry.

Dengan uang sukarela 5 poundsterling (Rp94 ribu), dia bisa mendapatkan satu kotak berisi makanan yang cukup untuk dua minggu.

Diketahui, badan amal anti-kemiskinan Trussell Trust menjalankan 1.200 bank makanan sementara sisanya dikelola secara mandiri, seringkali oleh gereja dan badan amal setempat.

Jo Benham Brown dari Key Project, yang menjalankan bank makanan di South Shields, Tyneside, mengatakan ada rasa malu yang mendalam di antara mereka yang pernah memiliki pekerjaan yang baik sebelum virus corona melanda.

“Karena pendapatan mereka lumayan, mereka berpikir orang lain akan menilai mereka karena tidak menyisihkan gaji enam bulan untuk hari-hari susah seperti ini,” katanya.

“Sejak awal pandemi, kami telah mendukung orang-orang yang bekerja di bidang TI, memiliki bisnis sendiri, dan bahkan seorang dokter gigi wiraswasta yang memiliki banyak hutang selama bertahun-tahun belajar. Tidak pernah ada dari mereka yang membayangkan bahwa mereka akan meminta bantuan kami,” terangnya.

(sst)

  • #Gantungkan Hidup
  • #Inggris
  • #Bank Makanan
  • #Miris
  • #Kaya Raya

Next Post

Polri Dalami Motif Ujaran Kebencian dan SARA Ustaz Maaher

Jum Des 4 , 2020
JAKARTA – Polri menyatakan masih menggali motif dari Ustadz Maaher At-Thuwailibi alias Soni Eranata dalam kasus ujaran kebencian dan bernuansa SARA di media sosial Twitter @ustadzmaaher_. “Motif masih pendalaman,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Sementara itu, Polri menyebut bahwa dalam kasus Maaher kata […]