Kisah Aneh Yukio Mishima, Novelis Terkenal Jepang yang Bunuh Diri dengan Seppuku

https: img.okezone.com content 2020 12 07 18 2323331 kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku-VMmewxges0.jpg

BERDIRI di balkon seperti di atas panggung, sosok kecil itu menarik perhatian pasukan yang berkumpul di bawah. Sosok tersebut adalah Yukio Mishima, yang lahir dengan nama Kimitake Hiraoka.

Kala itu, ia adalah novelis yang paling terkenal di Jepang. Pada 25 November 1970, dia pergi ke pangkalan militer di Tokyo, menculik komandannya, dan memintanya mengumpulkan garnisun. Kemudian dia mencoba untuk memulai kudeta.

Mishima mencerca negara dan konstitusi yang didukung Amerika Serikat (AS), mencaci-maki para prajurit karena kepatuhan mereka. Dia menantang para prajurit untuk mengembalikan Kaisar pada posisi sebelum perang sebagai dewa dan pemimpin nasional.

Penonton pada awalnya diam dengan sopan, atau hanya tertegun dalam keheningan, tapi kemudian menghujaninya dengan ejekan.

Mishima mundur kembali ke dalam dan berkata: “Saya rasa mereka tidak mendengarkan.”

Kemudian, dia berlutut dan bunuh diri dengan seppuku, ritual bunuh diri para Samurai.

Kematian Mishima mengejutkan publik Jepang. Dia adalah seorang selebriti sastra, macho, dan provokatif tetapi juga memiliki karakter yang agak konyol. Mungkin mirip dengan Norman Mailer di AS, atau Michel Houellebecq di Prancis saat ini.

Insiden itu terjadi pada pagi hari saat pembukaan sesi ke-64 Diet, parlemen Jepang. Kaisar hadir dalam acara tersebut.

Pidato perdana menteri tentang agenda pemerintah untuk tahun yang akan datang menjadi tak diperhatikan.

Sudah tidak ada lagi yang mati karena seppuku sejak hari-hari terakhir Perang Dunia Kedua.

“Ada yang mengira dia sudah gila, selain bahwa ini adalah upaya terakhir dari serangkaian tindakan eksibisionistik, ekspresi keinginan membuat kejutan, yang selama ini membuatnya terkenal,” tulis filsuf Jepang Hide Ishiguro dalam esai tahun 1975 untuk The New York Review.

“Beberapa orang berhaluan kanan melihat kematiannya sebagai tindakan patriotik untuk memprotes kondisi Jepang saat ini.”

“Yang lain percaya bahwa itu adalah lelucon menyedihkan dan mengerikan yang dibuat oleh seorang pria berbakat, yang telah menjadi seorang yang sangat buruk. Dia tidak tahan hidup sampai usia paruh baya dan menjadi biasa-biasa saja,” kata Hide Ishiguro.

Mishima pernah memberi tahu istrinya bahwa “Meskipun sekarang saya tidak dipahami, tidak apa-apa, karena saya akan dipahami oleh Jepang dalam waktu 50 atau 100 tahun.”

Pada 1949, Mishima hadir pada kancah sastra Jepang dengan Pengakuan Sebuah Topeng, semacam otobiografi terselubung. Novel ini membuatnya terkenal di awal usia dua puluhan.

Novel itu berkisah tentang seorang anak laki-laki lembut dan sensitif yang “ditawan” oleh neneknya. Neneknya sakit dan anak itu dipaksa merawatnya.

Alih-alih bermain di luar dengan anak laki-laki lain, dia dikurung bersama neneknya selama bertahun-tahun dalam kegelapan kamar tidur yang berbau tidak sedap. Pikiran si laki-laki berkembang di ruangan itu. Fantasi dan kenyataan tidak pernah terpisahkan; fantasi bagaikan saudara kembar yang lebih kuat, tumbuh dominan.

Pada saat nenek meninggal dan anak laki-laki itu terbebas, dia menjadi punya ketertarikan pada permainan peran, dengan kehidupan sebagai teaternya. Dia melapiskan fantasi pada kehidupan di sekitarnya.

Pria dan anak laki-laki, terutama yang berotot dan tegas, diberi peran dalam lamunannya yang gamblang, dan sering kali penuh kekerasan.

Sementara itu, ia terobsesi dengan kesesatannya sendiri dan tampil normal. Dia belajar bagaimana memainkan perannya sendiri: “Penyamaran yang kikuk telah dimulai.”

Keindahan dan kehancuran

Pengakuan Sebuah Topeng berlanjut hingga akhir masa remaja anak laki-laki tersebut, merinci evolusi yang terjalin dari kehidupan internal dan eksternalnya, serta kebangkitan homoseksualnya.

Dalam banyak hal, ini adalah kunci untuk memahami kehidupan dan karya Mishima di kemudian hari.

Buku ini mengungkapkan akar dari sensibilitas estetika Mishima, yang sangat terkait dengan seksualitasnya, yang terbukti menjadi obsesi yang mengarahkan Mishima.

Narator menulis bahwa anak laki-laki itu “secara sensual menerima kredo kematian yang populer selama perang”. Masa perang, ketika wajib militer dan pengorbanan diri tampaknya pasti dan akan segera terjadi.

Mishima memang terpaku pada gagasan bahwa kecantikan itu paling indah karena fana, dan hanya selangkah dari kehancuran.

Kredo ini berbaur dengan kekaguman pada wujud laki-laki, wujud yang tidak dimiliki oleh narator yang lemah.

Gabungan keduanya menghasilkan fantasi dalam wujud pejuang pemberani dan kematian berdarah. Dunia pribadi “Malam dan Darah dan Kematian” ini dipenuhi dengan “kekejaman yang paling rapi dan kejahatan yang paling indah”.

Tapi Pengakuan Sebuah Topeng juga menunjukkan pertukaran antara penampilan dan kenyataan yang menjadi ciri semua tindakan dan tulisan Mishima.

Penulis seperti terkunci dalam perjuangan gelap dengan dirinya sendiri, tapi membuka kemungkinan itu hanya sebuah cara yang ahli untuk memanipulasi media dan publisitas.

Pada 25 November 1970, Mishima berpidato di hadapan tentara yang berkumpul sebelum melakukan bunuh diri. (Foto: Getty Images).

Mishima memiliki keduanya, membuat skandal di masyarakat sambil mengesankan bantahan.

Rumusnya berhasil. Mishima menjadi sosok kontroversial dalam sastra Jepang pascaperang, dan karyanya dibaca oleh banyak orang Jepang.

Meskipun dekaden, dia adalah penulis yang disiplin dan produktif, menghasilkan banyak fiksi populer, sastra tingkat tinggi dan lusinan drama Noh.

Dia berusaha masuk dalam masyarakat kelas atas Tokyo dengan fokus yang sama, menumbuhkan citra pesolek. Wajahnya, dengan tulang kasar dan mata lembut, difoto dengan baik.

Dia berteman dengan biro asing dan korespondennya, dan Mishima melakukan apa pun yang dia bisa untuk memperluas ketenarannya di seluruh Pasifik.

“Jika Akio Morita dari Sony adalah orang Jepang paling terkenal di luar negeri,” tulis John Nathan, seorang penerjemah yang kemudian menulis biografi Mishima, “Mishima adalah yang kedua paling terkenal.”

Novel Mishima selama tahun 50-an sebagian besar memiliki alur otobiografi sugestif yang sama dengan Pengakuan Sebuah Topeng.

Dalam Warna-Warna Terlarang (1951), seorang penulis tua memanipulasi seorang pria gay muda yang bertunangan demi kenyamanan dan keamanan finansial.

Dalam Kuil dan Paviliun Emas (1956), seorang pembantu kuil terpesona oleh keindahan kuil dan yakin bahwa kuil itu akan dihancurkan oleh serangan bom. Ketika kuil itu selamat dari perang, dia malah menghancurkannya sendiri.

Dan di Rumah Kyoko (1959), seorang petinju mengambil peran dalam politik sayap kanan, sementara seorang aktor berada dalam hubungan seksual sado-masokis yang berakhir dengan bunuh diri ganda.

Materi Mishima adalah dirinya sendiri, tetapi dalam gaya, setidaknya, ia dianggap sebagai anak didik pemenang Nobel Yasunari Kawabata, yang melihat fungsi sastra sebagai seni, bukan alat propaganda.

Sebagian besar tulisan Mishima tampaknya terikat pada keyakinan ini secara mutlak. Gayanya formal dan hampir tradisional dan berfokus pada deskripsi yang sangat sensual di atas segalanya.

Tubuh, pakaian, dan aroma, penggambaran selektif ini hampir seperti sebuah fetish.

“Sentuhan mengagetkan nilon tipis dan kain sutera tiruan sofa itu memberi perasaan gelisah dalam ruangan… Desisan selempang yang terlepas, seperti peringatan seekor ular, diikuti dengan desiran lembut saat kimono jatuh ke lantai.” (Dari Pelaut yang Ternoda, 1963)

Lalu ada yang berubah, dan pada tahun 60-an fase politik dalam kehidupan Mishima bisa dikatakan dimulai. Setelah menggambarkan dirinya sebagai estetika murni, romantis dekaden, dalam 10 tahun terakhir hidupnya Mishima mengalami transformasi.

Saat itulah dia menjadi binaraga, berolahraga di gym selama dua jam sehari untuk menambah otot pada tubuhnya yang lemah.

Dia juga mulai menjemur dirinya di bawah sinar matahari, dan mengumpulkan sekelompok mahasiswa pria sayap kanan yang dia pimpin latihan rutin.

Tujuan dari “Shield Society” ini adalah untuk membantu tentara jika terjadi revolusi komunis.

Di balik transformasi ini ada alasan yang terakumulasi dalam sebuah esai misterius yang diterbitkan pada tahun 1968, dua tahun sebelum kematiannya.

Menilik ke belakang, dia melihat bahwa dia telah terkorosi dan dilemahkan oleh khayalan dan kata-kata yang berlebihan, dan kekurangan materialitas dan tindakan.

“Pada orang biasa, saya membayangkan, tubuh mendahului bahasa,” tulis Mishima.

“Dalam kasus saya, kata-kata datang pertama; kemudian datanglah daging, meskipun terlambat, dengan enggan dan sudah berselimut konsep. Itu sudah pasti, disia-siakan oleh kata-kata.”

Dia berusaha untuk menyeimbangkan dirinya dan menghidupkan kembali konsep samurai lama, “harmoni pena dan pedang.”

Dia ingin menjadi, atau dilihat sebagai “orang yang bertindak”.

Ledakan kreativitas terakhir

Mishima sampai pada usia empat puluhan dan sangat sadar akan usianya.

“Yang indah harus mati muda, dan semua orang harus hidup selama mungkin,” kata dia dalam tulisan tentang kematian dini aktor James Dean.

“Sayangnya, 95% orang menganggapnya terbalik. Mereka yang indah bertahan hidup hingga usia delapan puluhan dan orang-orang bodoh yang menyebalkan meninggal pada usia 21 tahun.”

Mishima merasa waktunya telah berlalu dan mulai merencanakan tindakan terakhirnya.

Setiap orang, pada titik tertentu, melihat hidup sebagai panggung. Tetapi hanya sedikit yang hidup dan membuat hidup mereka sebagai koreografi teater, dan lebih jarang lagi yang menggunakan seppuku untuk menutup pertunjukan mereka.

Bagi Mishima, itu adalah puncak dari fantasi seumur hidup. Unsur-unsurnya telah ada sejak awal, dalam Pengakuan Sebuah Topeng: tentara, kematian, dan darah.

Foto: Getty Images.

Transformasi diri menjadi seorang pejuang telah membuatnya menjadi objek keinginannya: sesuatu yang indah, sesuatu yang layak untuk dihancurkan. Dan fiksasi pada seppuku telah tumbuh di sana.

Mishima bahkan menulis dan membintangi sebuah film pendek, Patriotisme, di mana ia memerankannya secara detail. Mungkin tindakan terakhir Mishima adalah protes politik juga, kematian sebagai seni.

Pada pagi hari di hari terakhirnya, Mishima menyerahkan buku tetraloginya, Lautan Kesuburan, kepada penerbitnya. Keempat buku ini, yang ditulis dalam ledakan kreativitas yang luar biasa, adalah sesuatu yang baru.

Dimulai pada 1912, tak lama setelah Perang Rusia-Jepang, dan berakhir pada 1975, tetralogi itu mencatat periode perubahan yang luar biasa: dari kebangkitan Kekaisaran Jepang, melalui kehancuran di Perang Dunia Kedua, dan munculnya Jepang yang kapitalis dan konsumeris.

Semuanya disatukan oleh satu karakter, Honda, mungkin pengganti Mishima, dan reinkarnasi berulang dari teman masa kecilnya, jiwa abadi yang dikelilingi oleh perubahan dan penurunan.

Dibandingkan dengan karya-karya awal Mishima, Lautan Kesuburan mengandung filosofi yang sangat padat. Dan, setelah yang kedua, tulisannya terasa terburu-buru, menjadi semakin tipis.

Mishima menulis sebagian besar jilid terakhir, Membusuknya Sang Malaikat, selama liburan keluarga di tepi pantai pada Agustus 1970.

Dalam sepucuk surat tertanggal 18 November 1970, Mishima menulis kepada mentornya, Fumio Kiyomizu. “Bagiku, menyelesaikan (buku) ini tidak lebih dari akhir dunia.”

Baris terakhir Membusuknya Sang Malaikat sangat tenang.

“Taman ini cerah dan tenang, tanpa fitur yang mencolok. Seperti rosario yang digosokkan di antara kedua tangan, suara jangkrik terdengar.

Tidak ada suara lain. Taman itu kosong. Honda berpikir, dia telah datang ke tempat yang tidak memiliki kenangan, tidak ada apa-apa.

Matahari siang musim panas mengalir di atas taman yang tenang.”

1
7

  • #Tokoh Dunia
  • #Jepang

Next Post

6 Laskar FPI Tewas Ditembak, Habib Rizieq Diminta Belajar dari Gus Dur

Sel Des 8 , 2020
JAKARTA – Insiden penembakan 6 pendukung Habib Rizieq Shihab (HRS) oleh polisi di Jalan Tol Cikampek cukup menggemparkan publik. Polisi dalam keterangan resminya mengungkapkan langkah tegas itu diambil karena mereka melawan petugas. Saat itu, polisi mengaku sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus HRS. Peristiwa ini terjadi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 […]