KALEIDOSKOP 2020: Drama dan Kontroversi Pilpres AS 2020

https: img.okezone.com content 2020 12 22 18 2332087 kaleidoskop-2020-drama-dan-kontroversi-pilpres-as-2020-SykTHIp5jd.jpg

DRAMA dan kontroversi mengiringi kemenangan Joseph Robinette Biden Jr. atau Joe Biden, atas petahana Donald Trump, dalam sebuah pemilihan ketat yang memecah publik AS, di tengah pandemi virus corona yang sangat memukul negara itu.

Meski sejak awal difavoritkan karena rekam jejaknya yang gemilang, perjalanan Biden ke Gedung Putih tidak dapat dikatakan mulus. Ini merupakan kali ketiga pria berusia 78 tahun itu mencalonkan diri untuk memimpin negara adidaya tersebut.

BACA JUGA: Electoral College Resmi Tetapkan Kemenangan Biden di Pilpres AS 2020

Tidak seperti Trump yang melenggang tanpa saingan sebagai calon tunggal dari Partai Republik, Biden harus berhadapan dengan sejumlah kandidat dari Partai Demokrat, termasuk politisi senior Bernie Sanders dan para politikus muda seperti Pete Buttigieg, Tulsi Gabbard, dan Kamala Harris.

Sempat terseok di awal dengan hasil mengecewakan di dua pemilihan pendahuluan (primary) awal, Biden kemudian meraih kemenangan berturut-turut di tiga negara bagian Florida, Illinois, dan Arizona, menjadikannya kembali menjadi kandidat favorit.

Foto: Reuters.

Pandemi virus corona yang masuk ke AS pada Maret 2020, membuat persaingan terhambat, dengan banyak calon tidak dapat melanjutkan kampanye mereka. Pada April 2020, saingan terberat Biden, Bernie Sanders mengumumkan mundur dari pencalonan, mendorong Biden melenggang ke Konvensi Nasional pada Agustus 2020 di mana dia diumumkan sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.

Sejumlah peristiwa besar terjadi selama masa kampanye, yang tidak diragukan memberi pengaruh besar pada jalannya pemilihan presiden AS kali ini.

BACA JUGA: Menolak Hasil Pilpres, Pendukung Donald Trump Unjuk Rasa di Seluruh AS

Pandemi virus corona yang telah berlangsung di AS sejak Maret telah memukul kehidupan sosial, perekonomian, dan kesehatan negara itu, selain juga menyebabkan angka kematian yang tinggi. Pandemi berdampak besar pada popularitas Presiden Donald Trump yang oleh banyak warga AS dianggap tak becus menangani krisis ini, meski dia beranggapan sebaliknya.

Trump yang terus menyalahkan China terkait menyebarnya pandemi dianggap lamban bertindak, terutama setelah diketahui bahwa informasi mengenai virus SARS CoV-2, yang menyebabkan Covid-19 telah diterima sejak Februari 2020.

Sikap Trump yang sangat anti pada sistem kesehatan Obamacare yang membantu warga AS untuk mendapat akses pada bantuan kesehatan juga tidak membantu memperbaiki pandangan publik terhadap dirinya. Di sisi lain, Biden, yang merupakan wakil dari Presiden Obama adalah seorang pendukung sistem tersebut.

Pada Mei, pembunuhan terhadap George Floyd, seorang warga kulit hitam oleh polisi menyulut ketegangan rasial dan kerusuhan di seluruh AS.

Di tengah situasi ini, komentar-komentar Trump menjadikan dirinya semakin terlihat tidak simpatik di kalangan pemilih kulit hitam dan minoritas. Sebaliknya, Biden berupaya meraih dukungan sebesar mungkin dari kalangan pemilih Afrika-Amerika, yang terlihat dari pilihan calon wakil presidennya, Senator California, Kamala Harris.

Harris adalah seorang politikus perempuan keturunan Afrika-Amerika, yang pernah menjabat sebagai jaksa agung California. Banyak pihak meyakini, selain memiliki kompetensi, latar belakang Harris juga menjadi daya tarik bagi pemilih minoritas di AS.

Seperti pada 2016, pemilihan presiden kali ini juga tidak sepi dari kampanye negatif, terutama terhadap Biden. Upaya Presiden Trump untuk menyelidiki putra Biden, Hunter, terkait bisnisnya di Ukraina, memunculkan upaya pemakzulan terhadap sang petahana pada 2019. Selain itu, isu mengenai kesehatan dan usia Biden juga menjadi sasaran kampanye negatif tersebut.

Trump juga mempermasalahkan metode pemungutan suara via pos, yang digencarkan karena pandemi virus corona. Dia menyebut metode itu rawan dimanipulasi, bahkan secara terang-terangan mengatakan akan ada kecurangan yang terjadi selama pemungutan suara.

Pemungutan suara berlangsung pada 3 November 2020, dengan hampir 160 juta warga AS menggunakan hak pilihnya, angka partisipasi pemilih terbesar sejak 1900, menurut US Election Project.

Partai Demokrat yang sempat memprediksi kemenangan mudah untuk Biden dikejutkan dengan tipisnya selisih suara, meski akhirnya Biden dinyatakan memenangi perolehan suara dengan 320 suara elektoral, jauh dari 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangi pemilihan presiden, menurut penghitungan cepat oleh media AS.

Trump menolak mengakui kemenangan Biden, menuding adanya kecurangan dari metode pemungutan suara lewat pos, tanpa memberikan bukti. Dia bahkan mengajukan puluhan tuntutan hukum untuk membalikkan hasil penghitungan suara dan mendesak dilakukannya penghitungan ulang.

Langkah dramatis Trump ini membuat proses peralihan kekuasaan menjadi tertunda dan berlarut-larut. Di saat banyak kepala negara memberikan selamat kepada Biden, tim transisi sang presiden terpilih masih belum mendapatkan akses pada sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan tugas mereka.

Foto: Reuters.

Transisi yang biasanya mulai berlangsung sejak pekan pertama setelah penghitungan suara, baru bisa dilakukan pada 23 November, hampir sebulan setelah pemilihan presiden. Ini tentu saja memberi waktu yang lebih sedikit bagi tim transisi menjelang pelantikan presiden yang secara tradisional dilakukan pada 20 Januari tahun berikutnya.

Meski satu per satu gugatan hukum yang diajukan Trump gugur, mantan pengusaha New York itu masih menolak untuk menyerah dan mengakui kemenangan Biden.

Puncaknya terjadi saat 538 anggota electoral college berkumpul pada 14 Desember 2020 untuk menyertifikati hasil penghitungan suara dan meresmikan kemenangan bagi Biden dengan 302 suara berbanding 206 suara.

Pemilihan presiden AS 2020 mungkin merupakan yang paling kontroversial sepanjang sejarah negara itu. Untuk pertama kalinya, seorang kandidat menolak mengakui kekalahan dan menuding terjadinya kecurangan masif dalam penghitungan suara.

Negara-negara musuh AS mengejek apa yang terjadi di negara demokrasi terbesar di dunia itu. Presiden Venezuela menyebut penghitungan suara di AS “lamban” dan tidak transparan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei mengatakan apa yang terjadi sebagai “wajah buruk dari demokrasi liberal”.

Di dalam negeri, pemilihan tersebut menimbulkan terjadinya kekacauan, sekaligus sekali lagi menunjukkan betapa terbelahnya masyarakat AS.

1
4

  • #Amerika Serikat
  • #Pemilihan Presiden AS 2020
  • #Donald Trump
  • #Pilpres AS 2020
  • #Joe Biden
  • #Kaleidoskop 2020

Next Post

Besok, Kuasa Hukum Markaz Syariah Kirim Jawaban Somasi PTPN VIII

Ming Des 27 , 2020
JAKARTA – Sekretaris Bantuan Hukum DPP FPI Aziz Yanuar mengatakan, Tim Advokasi Markaz Syariah memastikan akan menjawab somasi yang dilayangkan PT Perkebunan Nasional (PTPN) VIII. Mereka menilai layangan surat PTPN VIII No. SB/I.1/6131/XII/2020, tertanggal 18 Desember 2020 itu salah alamat. Tim advokasi Markaz Syariah akan mengirimkan jawaban somasi PTPN VIII […]