Gempa M9,1 dan Tsunami 20 M, Pakar Geofisika: Ini Isu Lama!

https: img.okezone.com content 2020 10 02 337 2287106 gempa-m9-1-dan-tsunami-20-m-pakar-geofisika-ini-isu-lama-sm1y876D2a.jpg

JAKARTA – Pakar Geofisika, Hery Harjono mengapresiasi hasil kajian dari para ahli ITB yang menyebut adanya potensi gempa megathrust, Magnitudo (M) 9,1 yang mengakibatkan tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa.

Mantan Kepala Puslit Geoteknologi itu memastikan, bahwa hasil kajian dari Global Geophysics Reasearch Group ITB dapat dipertanggungjawabkan secara ilimiah.

“Saya apresiasi para ilmuwan yang telah mempublikasi hasil risetnya di jurnal yang prestisius. Artinya hasil riset ini sudah direview dengan ketat untuk bisa diterbitkan. Penulis utamanya salah satu ilmuwan terbaik yang kita miliki. Saya hanya ingin mengatakan riset mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” kata Hery saat dihubungi Okezone, Jumat (2/10/2020).

 Baca juga: Kajian Potensi Gempa & Tsunami Dahsyat Dibangun dengan Banyak Asumsi 

Meski demikian, mantan Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan tersebut menerangkan bahwa hasil kajian tersebut merupakan isu lama.

Hery menerangkan, selama ini banyak dugaan tentang potensi gempa dan tsunami di selatan Jawa. kata dia, peneliti LIPI Danny Hilman Natawidjaja juga sudah pernah mengemukakan tentang potensi tsunami di selatan Jawa pada pertemuan American Geophysical Union (AGU) di Amerika Serikat pada 2013 silam.

 Baca juga: Kawasan yang Dilanda Tsunami Tak Boleh Dijadikan Pemukiman 

“Pada 2013 kalau tidak salah. AGU dikenal sebagai asosiasi profesi yang prestigius juga. Jadi ini isu lama,” ucap dia.

Hary mengatakan, selatan Jawa merupakan zona gelap tentang potensi bencana. Menurut dia, selama ini kajian dan penelitian potensi bencana hanya dilakukan di Sumatera yang menjadi role model klasik potensi bencana di dunia.

“Betapa tidak, Sumatera yang diuntungkan dengan ajaran pulau di sebelah barat itu memungkinkan kita meletakkan segala peralatan untuk memonitor deformasi yang terjadi di bawah Sumatera. Para geologi pun leluasa menyibak hideformasi dan gempa di masa lalu dari rekaman yang tersimpan dalam formasi batuan,” lanjut dia.

 

Profesor Riset Geologi-Geofisika itu melanjutkan, data seismik refleksi dalam (deep seismic relection) yang menembus perut Sumatera sampai kedalaman 50-60 kilometer ada di dua daerah yakni daerah episentral gempa Aceh 2004 dan satu di Mentawai.

“Seingat saya baru tiga seismik refleksi dalam itu kita kerjakan. Satu lagi di sekitar Timor. Itu tahun 1996. Semua didukung industri karena mahal. Yang di Sumatera LIPI dan BPPT bekerjasama dengan Institut Physique du Globe de Paris (IPG Paris) Prancis dan disupport industri perminyakan. Kebetulan saya ikut menangani,” kata dia.

Hery menambahkan, pihaknya juga menggagas penelitian tentang potensi bencana di Mentawai, Sumatera Barat. Kajian potensi bencana di Jawa baru dilakukan setelah peristiwa gempa dan tsunami Aceh.

“Menyadari sedikitnya data, maka kami mulai melacak tsunami purba (paleo tsunami) dengan harapan mengetahui gempa pemicunya dan periode ulangnya,” tambah Hery.

1
2

  • #Tsunami Selatan Pulau Jawa
  • #Prediksi Tsunami
  • #Gempa Megathurst
  • #BMKG
  • #ITB

Next Post

Kasus Covid-19, Epidemiolog Minta Pemprov DKI Maksimalkan Strategi Esensial

Jum Okt 2 , 2020
JAKARTA – Angka penularan kasus Covid-19 masih saja berlangsung tinggi, kendati Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat DKI Jakarta telah berlangsung dua pekan. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mendorong agar Pemprov DKI Jakarta memaksimalkan strategi esensial dengan testing, trasing, dan karantiana/isolasi. “Sehingga yang dilakukan peningkatan kapasitas dan program […]