Fenomena Kata ‘Anjay’ karena Sifat Bahasa Dinamis

https: img.okezone.com content 2020 09 01 337 2270550 fenomena-kata-anjay-karena-sifat-bahasa-dinamis-1yDlQ7ESsw.jpg

JAKARTA – Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU), Dedy Rahmat Sitinjak mengatakan, fenomena kata anjay yang kerap diucapkan milenial lantaran bahasa bersifat dinamis. Setiap kata, sambung dia, bisa berbeda makna bila dilihat dari konteks situasi dan waktu.

“Kata ‘anjay’ memang cukup familiar ditelinga pada masa kini, namun sudah dapat kita tebak kata tersebut merupakan pelesetan nama hewan berkaki empat yang suka menggonggong. Perlu diketahui bahwa bahasa tidak terlepas dari konteks situasi dan waktu,” kata Deddy saat dihubungi Okezone, Selasa (1/9/2020).

 Baca juga: Komnas PA Minta Hentikan Penggunaan Istilah Anjay 

Dedy pun mencontohkan fenomena kata anjay seperti kata jancuk yang sebelumnya hanya populer di Jawa Timur. Menurut dia, dinamisnya sifat bahasa dan pengaruh media sosial (medsos) menjadikan kata tersebut menjadi populer di Tanah Air.

“Kita ambil satu contoh pada fenomena istilah kata yag sering kita dengar pada sebagian masyarakat Jawa Timur yang sering mengucapkan kata ‘cuk’ atau ‘jancok’ yang mana maknanya mengandung banyak arti,” sambung dia.

“Arti sebuah kata melambangkan ekspresi dan dari satu kata bisa melambangkan banyak ekspresi, bisa sebagai ekspresi tanda canda, bisa sebagai ekspresi tanda kecewa, bisa sebagai ekspresi tanda kedekatan emosional, dan bisa juga sebagai ekspresi emosional,” tambah pria asal Tapsel itu.

Alumnus magister bahasa USU itu pun menerangkan, fenomena kata anjay dan jancuk membuktikan bahwa bahasa akan terus berkembang dengan sifatnya yang dinamis. Selain itu, bahasa tidak akan terlepas dari waktu dan konteks.

“Perkembangan dan dinamisnya bahasa tidak bisa dibendung, itu sudah menjadi sifat mutlak bahasa. Namun perlu diketahui bahwa kata anjay merupakan bahasa non formal (bahasa pasar) tentulah tidak ada yang perlu dipermasalahkan, kecuali kata anjay kita gunakan pada domain formal, makanya dari awal saya katakan bahwa sebuah bahasa atau kata tidak bisa dilepaskan dari konteks situasi dan konteks waktu,” tandasnya.

Sebelumnya, kata anjay menjadi kontroversi di medsos karena bermakna anjing. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pun meminta agar anak Indonesia tidak lagi menggunakan kata tersebut.

Kata anjay juga dinilai merupakan kekerasan verbal dan dapat dilaporkan sebagai tindak pidana.

“Istilah tersebut adalah satu bentuk kekerasan verbal dan dapat dilaporkan sebagai tindak pidana,” kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam keterangannya.

1
2

  • #Komnas Perlindungan Anak
  • #Komnas PA
  • #kata-kata gaul
  • #Anjay
  • #Kata Anjay

Next Post

GOME's "Home Living" Strategy Speeds Up at Its All-out Efforts

Sel Sep 1 , 2020
HONG KONG, Sep 1, 2020 – (ACN Newswire) – GOME Retail Holdings Limited (493.HK) today announced its unaudited interim results for the six months period ended 30 June 2020 (the “Reporting Period”). “Home Living” Strategy Speeds Up at Its All-out Efforts and Successfully Completed the First Phase of Strategical Development […]