Cegah Konflik, DPR Dorong Hubungan Baik TNI-Polri Disosialisasikan ke Bawah

https: img.okezone.com content 2020 08 30 337 2269940 cegah-konflik-dpr-dorong-hubungan-baik-tni-polri-disosialisasikan-ke-bawah-odfQHi9DEd.jpg

JAKARTA – Kasus penyerangan Polsek Ciracas yang dilakukan sejumlah oknum TNI pada Sabtu (29/8/2020) memicu keprihatinan berbagai kalangan. 

Anggota Komisi III DPR Trimedya Panjaitan mengatakan, kasus tersebut tidak lepas dari adanya hubungan yang kurang harmonis antara TNI-Polri di level bawah. Hal ini terjadi karena sejak era reformasi, ada perubahan paradigma, situasi dan kondisi di kedua instansi ini.

“Dulu waktu zaman Soeharto sebelum reformasi, kan heavy-nya ke TNI. Kemudian, setelah reformasi ada jargon ‘Tentara Kembali ke Barak’, heavy-nya kemudian ke polisi. Dulu Polri itu di bawah ABRI, jadi superioritas itu ada di TNI. Nah, sehingga TNI masih menganggap dia yang superior dan itu kan tidak gampang mengubah paradigma itu, termasuk soal rezeki,” tutur Trimedya, Minggu (30/8/2020).

Baca Juga: Kasus Penyerangan Polsek Ciracas Harus Diusut hingga Tuntas

Politikus PDIP ini menyebutkan, di era Orde Baru, mulai petugas sekuriti dan berbagai pos lainnya, lebih banyak dipegang TNI. “Istilahnya dulu orang tidak perlu kenal polisi, yang perlu kenal tentara. Orang tidak perlu tahu kapolresnya siapa, tapi yang perlu tahu dandimnya siapa. Nggak perlu tahu kapoldanya siapa, tapi pangdamnya siapa. Kalau sekarang kan terbalik, termasuk dari sisi kesejahteraan,” tuturnya.

Karena itulah, kata Trimedya, harmonisasi hubungan TNI-Polri ini harus semaksimal mungkin terus disosialisasikan hingga ke level bawah sehingga tidak ada lagi kecemburuan kekuasaan maupun kecemburuan kesejahteraan. “Tapi kan sering kali oknum Polri ini yang sekarang merasa lebih superior dan lebih sejahtera, sering arogan di hadapan TNI. Bisa lihat perbedaan Dandim dengan Kapolres, Kapolda dengan Pangdam, kan itu jauh betul sekarang itu perbedaannya. UU Polri kan 2002, sekarang 18 tahun, ya kalau masih ada riak-riak kecil kadang-kadang wajar juga,” tuturnya.

Namun, Trimedya menegaskan bahwa adanya riak-riak kecil yang sering menimbulkan persoalan di level bawah tersebut harus segera diselesaikan dan didudukkan pada porsinya.

Dalam kasus pembakaran Polsek Ciracas, kata Trimedya, berdasarkan pemberitaan di media dengan mengutip pernyataan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, kerusuhan tersebut ternyata dipicu hal yang sangat sederhana yakni soal berita hoaks. Yakni, seorang prajurit TNI Prada MI mengaku dikeroyok dan disampaikan ke taman-temannya sesama prajurit, namun dari hasil pemeriksaan ternyata Prada MI akhirnya mengaku kalau sebenarnya dirinya mengalami kecelakaan tunggal.

“Yang perlu didalami apa motivasi oknum TNI ini sampai membuat hoaks seperti itu. Karena apapun, jiwa korsa TNI kan tinggi sehingga dipicu hal seperti itu saja tanpa melihat kebenaran dari informasi itu saja langsung bergerak. Nah pemahaman seperti itulah yang tetap harus disosialisasikan, setiap kali Panglima TNI dan Kapolri ke daerah,” tuturnya.

Baca Juga:  Kasus Perusakan Polsek Ciracas, Prada MI Masih Dirawat di RSPAD 

Trimedya mengaku bisa memahami masing seringnya adanya letupan-letupan kecil di internal TNI-Polri, namun hal ini tidak boleh ditoleransi. “Ini dandimnya, pangdamnya harus segera bergerak, terutama apa motivasinya? Apalagi kayak sekarang kan medsos itukan cukup membahayakan. Nah, hoaks seperti itu harus dihindari. Efeknya sampai menghancurkan, itu harus tetap diberikan sanksi tindakan. Pertama yang membuat hoaks itu, kedua yang melakukan perusakan,” urainya.

Trimedya mengingatkan dari sisi anggota Polri jangan sampai memancing kecemburuan sosial, apalagi cenderung pada arogansi. Sementara dari sisi TNI, harus pula bisa menerima perbedaan zaman. “Saya bisa memaklumi, tapi tindak pidananya harus jalan supaya tidak terjadi lagi di kemudian hari. Dan yang paling ditekankan apa motivasi anggota TNI itu sampai membuat hoaks. Harus ada sanksi masak kantor Polsek sampai dirusak,” pungkasnya.

(Ari)

  • #polri
  • #DPR RI
  • #tni
  • #Polsek Ciracas
  • #Penyerangan Mapolsek Ciracas
  • #Perusakan Mapolsek Ciracas

Next Post

Warga yang Tertembak Tembakan Peringatan Polisi Meninggal, Ini Kata Polri

Sen Agu 31 , 2020
Jakarta – Anjas (23), seorang dari tiga pemuda yang tertembak ketika polisi melepaskan tembakan peringatan di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), meninggal dunia. Polri mengatakan Propam masih mengecek mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi “Sedang dicek oleh Propam,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono saat dihubungi, Minggu (30/8/2020). Baca juga: Pemuda […]