Bunga Baru Ditemukan di Pecahan Amber, 100 Juta Tahun Setelah Berbunga

https: img.okezone.com content 2020 12 25 18 2333893 bunga-baru-ditemukan-di-pecahan-amber-100-juta-tahun-setelah-berbunga-XqR2ZgjgA2.jpg

MYANMAR – Spesies bunga baru ditemukan dalam pecahan amber di Myanmar 100 juta tahun setelah berbunga.

Bunga langka ini akhirnya mendapatkan momennya di bawah sinar matahari, hampir 100 juta tahun setelah mekar.

Para peneliti di Oregon State University telah mengidentifikasi spesies baru angiospermae, atau tumbuhan berbunga, dari Periode Kapur, yang diawetkan dalam pecahan amber yang ditemukan di Myanmar.

Dijuluki Valviloculus pleristaminis, bunga ini masih satu keluarga dengan laurel dan terkait dengan sassafras blackheart yang ditemukan di Australia.

Myanmar dan Australia terbelah lebih dari 4.000 mil lautan. Namun pada saat bunga ini terbungkus resin, mereka adalah bagian dari benua super yang dikenal sebagai Gondwanaland.

Penemuan V. pleristaminis menunjukkan bahwa lempeng benua itu terpisah dari Gondwanaland jauh lebih lambat dari teori sebelumnya.

“Ini bukan bunga Natal tapi indah, terutama mengingat itu adalah bagian dari hutan yang ada hampir 100 juta tahun yang lalu,“ terang George Poinar Jr., ahli paleontologi di Departemen Biologi Integratif OSU.

(Baca juga: Unik, Sinterklas Tunggangi Gajah Berikan Hadiah Masker)

“Bunga jantan kecil, sekitar 2 milimeter, tetapi memiliki sekitar 50 benang sari tersusun seperti spiral, dengan kepala sari mengarah ke langit,” ujarnya, dikutip Daily Mail.

Benang sari adalah bagian dari bunga jantan yang menghasilkan serbuk sari. Sedangkan kepala sari adalah kepala benang sari penghasil serbuk sari.

“Meski begitu kecil, detail yang tersisa masih luar biasa, “ terang Poinar, penulis laporan tentang penemuan di Journal of Botanical Research Institute of Texas.

Dia dan koleganya di OSU dan Departemen Pertanian menamai bunga itu – yang merupakan genus dan spesies baru – Valviloculus pleristaminis.

Valva adalah istilah Latin untuk daun di pintu lipat, lokulus berarti kompartemen, plerus mengacu pada banyak, dan staminis mencerminkan lusinan organ seks jantan bunga.

Poinar menambahkan spesimen itu mungkin bagian dari kelompok tanaman dengan bunga serupa, beberapa mungkin betina.

Selain keindahannya, fosil bunga ini patut diperhatikan karena perjalanan yang ditempuh. Bunga ini mekar di benua super kuno Gondwanaland dan terbungkus dalam damar sebelum menumpang di lempeng benua yang dikenal sebagai West Burma Block.

Lempeng itu perlahan bergeser dari Australia ke Asia Tenggara, menempuh perjalanan sejauh 4.000 mil.

Ada perdebatan yang sedang berlangsung tentang kapan West Burma Block terpecah dari Gondwanaland, yang akhirnya terpecah menjadi Afrika, Amerika Selatan, Australia, Antartika, anak benua India, dan Semenanjung Arab.

Beberapa ahli geologi telah memperkirakan tanggal sekitar 500 juta tahun yang lalu. Sedangkan yang lain berteori jika itu mendekati 200 juta tahun yang lalu.

Tapi, menurut Poinar, angiospermae hanya berevolusi dan terdiversifikasi sekitar 100 juta tahun yang lalu. Itu berarti West Burma Block tidak bisa pecah sebelum itu.

Poinar adalah pakar terkenal di dunia dalam menganalisis tumbuhan dan hewan yang ditemukan dalam amber. Karyanya sempat menginspirasi Michael Crichton untuk menulis Jurassic Park.

Sebelumnya, pada 2013, Poinar menemukan sepotong amber dengan bukti reproduksi seksual tertua di tanaman berbunga, sekumpulan 18 bunga kecil dari Periode Kapur.

1
2

  • #Amber
  • #Bunga baru
  • #Bunga
  • #Spesies baru
  • #Bunga Langka

Next Post

15 Kapolres Dimutasi Jelang Jenderal Idham Azis Pensiun, Ini Daftarnya

Sab Des 26 , 2020
JAKARTA – Kapolri Jenderal Idham Azis melakukan mutasi terhadap perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen). Mutasi tersebut dilakukan jelang Kapolri Jenderal Idham Azis memasuki masa pensiun pada Januari 2021. Secara keseluruhan terdapat 153 pati dan pamen yang berganti jabatan. Mutasi dan promosi ini tertuang dalam dua surat telegram, masing-masing […]