Akibat Pandemi Covid-19 dan Selebriti yang Bunuh Diri, Jepang Catat Peningkatan Wanita Bunuh Diri Hingga 88%

https: img.okezone.com content 2020 12 30 18 2336519 akibat-pandemi-covid-19-dan-selebriti-yang-bunuh-diri-jepang-catat-peningkatan-wanita-bunuh-diri-hingga-88-ynTNprYaaZ.jpg

JEPANG – Jepang mencatat peningkatan jumlah orang yang bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir karena kecemasan yang disebabkan pandemi virus Covid-19.

Virus ini dianggap menimbulkan dampak emosional dan psikologis. Selain virus corona, aksi bunuh diri para selebriti juga diyakini semakin memperburuk tren bunuh diri.

Direktur perwakilan dari Pusat Promosi Penanggulangan Bunuh Diri Jepang Yasuyuki Shimizu, memperingatkan risiko bunuh diri telah meningkat di Jepang, terutama bagi wanita.

Kasus bunuh diri yang dilakukan kaum hawa mulai meningkat pada Juni dari tahun sebelumnya. Menurut data sementara Badan Kepolisian Nasional yang dikumpulkan pada 16 Desember, pada November lalu, angka bunuh diri kaum hawa naik selama enam bulan berturut-turut, yakni mencatat kenaikan 88,6 persen pada Oktober.

Jumlah total kasus bunuh diri dari Juli hingga November juga naik dari tahun sebelumnya.

“Kekhawatiran atau masalah yang cenderung dihadapi wanita kemungkinan memburuk selama pandemi,” kata Shimizu, dikutip Kyodo News.

Dia mengatakan ada beberapa faktor yang ikut memperburuk. Seperti penyakit mental, kesulitan keuangan dan pekerjaan, mengasuh anak serta kekerasan dalam rumah tangga berkontribusi pada tingkat bunuh diri wanita.

(Baca juga: Pesta di Pantai, Pemerintah Australia Ancam Batalkan Visa)

“Saat ini, tidak jarang perempuan menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga, meskipun banyak dari mereka tetap dalam posisi tidak tetap. Jika mereka di-PHK atau kontraknya tidak diperpanjang, hal itu tidak hanya mempengaruhi mereka tetapi juga seluruh keluarga,” terangnya.

Konselor profesional juga telah menarik hubungan antara pandemi dan peningkatan risiko bunuh diri.

Terkait hal ini, organisasi nirlaba Tokyo Mental Health Square dekat Stasiun Ikebukuro telah memberikan konsultasi melalui pesan pribadi, telepon, dan pertemuan tatap muka.

Menurut Kepala pusat konseling organisasi Katsuyoshi Shingyouchi, konselor sangat memperhatikan tanda-tanda khusus yang diberikan klien dalam menilai tingkat risikonya. Ini termasuk apakah mereka mengungkapkan niat yang kuat untuk bunuh diri daripada keinginan yang tidak jelas, menunjukkan metode, seperti menggantung diri, atau menentukan tempat dan tanggal bunuh diri.

Jika konselor menilai klien berisiko tinggi untuk bunuh diri, mereka melaporkan kasus tersebut ke polisi. Nantinya polisi akan meminta perusahaan telekomunikasi untuk mengungkapkan informasi pribadi tentang individu tersebut.

“Saya berbicara dengan staf saya sekitar Agustus jika mungkin ada sesuatu yang terjadi, karena jumlah kasus yang kami laporkan ke polisi meningkat,” terangnya.

Bulan berikutnya, pusat konseling melihat lonjakan jumlah orang yang mengakses layanan konsultasi media sosialnya setelah kematian aktris populer Yuko Takeuchi karena bunuh diri. Angkanya tercatat melonjak dari sekitar 200 orang menjadi sekitar 1.800 orang dalam sehari tak lama setelah kematiannya.

Selebriti lain yang bunuh diri yakni Takeuchi, 40, pada akhir September dan aktor Haruma Miura, 30, pada Juli lalu.

“Mereka yang hampir tidak bertahan di bawah tekanan pandemi mungkin telah melepaskan diri, kemungkinan didorong oleh tindakan bunuh diri oleh aktor terkenal dan laporan berita tentang mereka,” terang Shimizu dari JSCP.

Jumlah kasus bunuh diri di Jepang menurun setiap tahun dalam 10 tahun hingga 2019. Namun, akumulasi angka dari Januari hingga November tahun ini mencapai 19.225 orang, semakin dekat dengan total 2019 sebanyak 20.169 orang.

Shimizu pun menyarankan pemerintah harus mempertimbangkan persyaratan kelayakan untuk pembayaran kesejahteraan guna membantu orang mengatasi kesulitan akibat pandemi.

Dia juga ingin informasi tentang sistem kesejahteraan juga perlu dipublikasikan secara lebih agresif sehingga orang yang membutuhkan memahami bagaimana sistem dapat membantu mereka.

Shimizu juga ikut berkiprah menasihati sekelompok anggota parlemen yang bertugas mencegah bunuh diri.

“Jika orang-orang dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk bantuan darurat atau tindakan dukungan lainnya, mereka tidak boleh mendapat kesan bahwa hidup mereka telah berakhir. Sebagai upaya terakhir, selalu ada pembayaran kesejahteraan,” katanya.

Terkait pengaruh laporan media terhadap bunuh diri selebriti, Shimizu mengatakan media besar tampaknya menjadi lebih berhati-hati dalam cara melaporkan, sejalan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun masih dibutuhkan perbaikan di internet dan media sosial (medsos).

“Sangat penting untuk mengembangkan sistem yang mencegah laporan sensasional terus menyebar,” tegasnya.

Lihat juga:
Kumpulan Berita Trending dan Viral di Sini
1
2

  • #Selebriti Jepang bunuh diri
  • #Virus Corona
  • #Covid-19
  • #Jepang
  • #Orang Bunuh Diri

Next Post

Munarman: Pelarangan FPI De Javu Rezim Nasakom

Kam Des 31 , 2020
JAKARTA – Deklarator Front Persatuan Islam Munarman menyebut bahwa pelarangan Front Pembela Islam (FPI) sudah pernah terjadi ketika era Nasakom lalu. Sebab itu, Ia menganggap dibubarkanya FPI merupakan hal pengulangan atau De Javu. “Jadi pelarangan Front Pembela Islam saat ini adalah merupakan de javu alias pengulangan dari Rezim Nasakom yang […]