Total permintaan emas selama Juli-September mencapai 831 ton, turun dari 894,4 ton pada periode yang sama tahun lalu

London () – Permintaan emas global jatuh pada kuartal ketiga ke level terendah sejak kuartal terakhir 2020 karena para investor keuangan menjual logam tersebut, kata Dewan Emas Dunia (WGC), Kamis.

Namun, permintaan dari perhiasan, bank sentral, dan investor ritel yang lebih kecil yang membeli emas batangan dan koin kuat, tambah WGC.

Dikutip dari Reuters, total permintaan emas selama Juli-September mencapai 831 ton, turun dari 894,4 ton pada periode yang sama tahun lalu dan 1.084,9 ton pada kuartal ketiga 2019, kata WGC dalam laporan kuartalan terbarunya.

Angka-angka tersebut menunjukkan dampak berkelanjutan dari pandemi virus corona.

Bank-bank sentral menghentikan pembelian saat virus menyebar dan penutupan toko serta kehilangan pekerjaan menyebabkan penjualan perhiasan anjlok, khususnya di Asia, tetapi ancaman kerusakan ekonomi memicu penimbunan investor yang besar, terutama di Barat.

Emas sering dilihat sebagai penyimpan nilai yang aman.

Permintaan bank sentral dan perhiasan sebagian telah pulih karena ekonomi dihidupkan kembali. Investor yang lebih kecil membeli pada tingkat yang lebih cepat daripada sebelum pandemi, tetapi investor yang lebih besar berubah-ubah.

Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas yang dilanda aksi jual tahun lalu karena pertumbuhan ekonomi bangkit kembali dan lagi tahun ini karena perhatian beralih ke kenaikan suku bunga yang akan membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil kurang menarik.

Untuk setahun penuh, "permintaan konsumen dan bank-bank sentral yang kuat akan mengurangi kerugian dari ETF" kata analis pasar senior WGC, Louise Street.

"Permintaan perhiasan akan terus melebihi level tahun lalu, tetapi permintaan investasi secara total akan lebih lemah pada tahun 2021, meskipun permintaan emas batangan dan koin sehat," katanya.

WGC memperkirakan permintaan dari toko perhiasan sebesar 1.700-1.800 ton untuk tahun 2021, yang akan dibandingkan dengan 1.401 ton pada tahun 2020 dan 2.123 ton pada tahun 2019.

Dikatakan "tidak akan terkejut" jika bank-bank sentral membeli lebih dari 450 ton tahun ini, naik dari 255 ton pada 2020 tetapi di bawah 605 ton yang mereka beli pada 2019.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © 2021