Bengaluru () – Harga emas relatif tidak berubah di perdagangan Asia pada Kamis pagi, karena penguatan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang melayang di dekat tertinggi multi-tahun, mengimbangi dukungan dari eskalasi krisis Ukraina.

Emas di pasar spot sedikit berubah menjadi diperdagangkan di 1.943,75 dolar AS per ounce pada pukul 01.31 GMT. Sementara itu, emas berjangka AS menguat 0,4 persen menjadi diperdagangkan di 1.944,40 dolar AS per ounce.

Indeks dolar naik pada Rabu (23/3/2022), membuat emas kurang menarik bagi pemegang mata uang lainnya, karena harga minyak melonjak lebih tinggi lagi ketika Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin Eropa lainnya akan menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang menjadi acuan melayang mendekati level tertinggi sejak Mei 2019 pada Rabu (23/3/2022).

Emas sensitif terhadap imbal hasil yang lebih tinggi, karena meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Ancaman Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengalihkan penjualan gas tertentu ke rubel membuat kontrak berjangka Eropa melonjak, di tengah kekhawatiran langkah itu akan memperburuk krisis energi dan menghambat kesepakatan yang mencapai ratusan juta dolar setiap hari.

Kepemilikan exchange-traded fund (ETF) yang didukung emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust naik 0,4 persen menjadi 1.087,66 ton pada Rabu (23/3/2022) – tertinggi sejak 26 Februari 2021.

Palladium, yang digunakan oleh pembuat mobil dalam catalytic converter untuk mengekang emisi, naik 1,5 persen menjadi diperdagangkan di 2.549,34 dolar AS per ounce.

Logam mulia lainnya di pasar spot, perak naik 0,1 persen menjadi diperdagangkan di 25,08 dolar AS per ounce, sementara platinum turun 0,3 persen menjadi diperdagangkan di 1.016,99 dolar AS per ounce.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © 2022