Bila terjadi kenaikan suku bunga di tahun 2022 diperkirakan akan memberikan dampak yang lebih besar dan lama terhadap pasar keuangan negara berkembang

Jakarta () – Direktur Equator Swarna Investama Hans Kwee menilai dampak tapering atau pengurangan stimulus yang dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed mungkin tidak akan terlalu besar menggangu pasar saham di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut Hans, hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, di nya The Fed sudah sangat transparan, kebijakan tersebut sudah diantisipasi pelaku pasar dan pembuat kebijakan cukup lama, dan kondisi ekonomi makro Indonesia yang lebih baik ketimbang 2013.

"Lalu, mata uang negara berkembang termasuk Indonesia saat ini pada posisi undervalued, dominasi kepemilikan asing di instrumen keuangan Indonesia relatif lebih kecil, dan bantalan yang lebar (yield 10 year government bond)," ujar Hans dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Namun, lanjut Hans Kwee, yang justru seharusnya diperhatikan adalah peluang The Fed menaikkan suku bunga jauh lebih cepat daripada negara-negara maju yang lain.

Sebanyak sembilan dari 18 pejabat The Fed siap untuk menaikkan suku bunga tahun depan sebagai respons atas kenaikan inflasi yang diperkirakan mencapai 4,2 persen pada tahun ini, lebih dari dua kali lipat dari target yang ditetapkan 2 persen.

"Bila terjadi kenaikan suku bunga di tahun 2022 diperkirakan akan memberikan dampak yang lebih besar dan lama terhadap pasar keuangan negara berkembang," kata Hans Kwee.

Ekonom Ryan Kiryanto menilai, bahwa sejauh ini kepercayaan investor asing kepada pemerintah Indonesia masih terjaga dengan baik meski belakangan ini tengah hangat isu mengenai tapering yang akan dilakukan The Fed pada November 2021.

"Kita enggak usah khawatir dengan investor SBN (surat berharga negara) atau SUN (surat utang negara) kita, karena paling tidak trust dari foreign investor atau investor asing terhadap pemerintah Indonesia itu masih dijaga dengan baik. Ini dilihat dari porsi kepemilikan surat utang oleh investor asing," ujar Ryan.

Per 7 Oktober 2021, porsi kepemilikan asing di SBN mencapai Rp956 triliun atau 21,45 persen dari total Rp4.457,5 triliun yang diperdagangkan.

Terkait tapering, ia optimistis Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun Menteri Keuangan dapat menghandle kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ditimbulkannya.

"Makanya, baik Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK, Menteri Keuangan kita semuanya optimis, kita bisa meng-handle atau mentackle kemungkinan-kemungkinan terburuk sekiranya tapering off dan kenaikan suku bunga The Fed itu akan dilakukan. Artinya, rencana-rencana ini sudah price in in the market, sudah di factor in di pasar oleh pemain kita. Sehingga tidak akan terjadi kejutan yang akan extra ordinary seperti yang terjadi di 2013 lalu," ujar Ryan.

Ryan juga optimistis, jika tahun ini ekonomi nasional akan tumbuh lebih baik. Hal itu sejalan dengan kinerja capital market yang juga tengah menunjukan hal yang sama.

"Market capital kita naik, jumlah investor naik, jumlah investor naik, karena mereka melihat perkembangan ekonomi kita terkini maupun ke depannya di valuasi akan berada pada jalur yang benar. Dan mudah-mudahan ini terus bergerak ke atas, dan kita meyakini bahwa policy makers kita selalu in the market," kata Ryan.

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © 2021