Rebo Wekasan di Jepang Kudus Digelar Secara Sederhana, Begini Suasananya

Sejumlah pemuda saat membungkus air salamun pada tradisi Rebo Wekasan di Masjid Wali Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, Selasa (13/10/2020). (Dian Utoro Aji/detikcom).

Jakarta

Rebo Wekasan, tradisi ini selalu digelar oleh warga Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah setiap tahun. Tepatnya tiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan dalam sistem penanggalan hijriyah. Tahun ini Rabu terakhir bulan Safar jatuh esok hari, 14 Oktober 2020.

Namun karena adanya pandemi COVID-19 tradisi Rebo Wekasan tahun ini di Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah dilaksanakan tanpa acara Kirab Air Salamun. Air salamun berasal dari sumur peninggalan Sunan Kudus yang berada di komplek Masjid Wali.

Baca juga: Rebo Wekasan, Warga Banyuwangi Ramai-ramai Gelar Petik Laut

Koordinator Pembagian Air Salamun, Muhammad Ridwan mengatakan air salamun ini dipercaya memiliki sejumlah khasiat. Pada Rabu bulan Safar, kata dia Allah menurunkan 313 ribu bala. Dengan air salamun itu dipercaya akan menolak bala. “Para ulama setiap bulan Safar ada hari Allah menurunkan 313 ribu bala dan ahli khasaq mempelajari bagaimana menolak bala antara dengan membuat air salaman. Di antaranya itu dibacakan dengan ayat – ayat Aquran dan insya allah menjadi tolak bala warga sekitar,” kata Ridwan kepada com saat ditemui di Masjid Jami Wali Al-Ma’mur Desa Jepang, Selasa (13/10/2020) malam.

Menurut Ridwan biasanya setiap tahun tradisi Rebo Wekasan digelar secara meriah. Mulai sepekan sebelum hari pelaksanakan digelar dengan berbagai macam acara. Namun karena tahun ini ada pendemi COVID-19, acara digelar secara sederhana. Termasuk meniadakan kirab air salamun.

Sebagai gantinya tahun ini dibagikan air salamun sebanyak 4.000 bungkus. Tahun lalu sebelum pandemi ada 10 ribu bungkus dibagikan kepada masyarakat. “Tidak ada kirab air Salamun, Kita bagikan masing – masing koordinator RT dan RW di Desa Jepang. Perlu diketahui bahwa untuk ritual air salamun pada Rebo Wekasan ini berjalan dari jaman dulu,” kata Ridwan.

Pantauan com sejumlah pemuda setempat sibuk mewadahi air salamun di kompleks Masjid Jami Wali Al-Ma’mur Desa Jepang. Sebelum dibungkus, air tersebut didoakan oleh tokoh masyarakat setempat. Setelah itu dibungkus setiap kantong plastik berukuran 2 liter.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang

Air salamun yang sudah dibungkus dalam plastik kemudian dimuat dalam kendaraan terbuka. Setelah itu diantarkan ke masing – masing koordinasi RT dan RW di Desa Jepang. “Tidak hanya pembagian saja tapi ada rangkaian ramai sekali. Tahun ini karena masa pandemi kita ditiadakan, desa mengimbau jangan ada kerumunan,” ujar Ridwan.

Sekretaris Pokdarwis Desa Jepang, Fatkhur Rokhman Aziz mengatakan bahwa Rebo Wekasan bukan tradisi hanya di Desa Jepang. Melainkan dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun di Desa Jepang berbeda dengan yang lain, karena air salamun yang dibagikan berasal dari sumur peninggalan Sunan Kudus.

“Rebo Wekasan tidak hanya desa Jepang saja. Itu Rebo Wekasan umat silam di Jawa (seluruh Indonesia). Yang menjadi unik sendiri di Masjid Wali ini, air salamun yang dibagikan diambil sumur peninggalan Sunan Kudus yang ada di masjid. Itu yang paling pembeda,” kata Aziz kepada com saat ditemui di Masjid Wali, Selasa malam ini.

Aziz mengatakan, tradisi Rebo Wekasan di Desa Jepang pun ada sejarahnya. Yakni dikembangkan oleh leluhur waktu dulu adalah Syaid Doro Ali Al- Idrus. Beliau kata dia adalah tokoh yang melestarikan di Masjid Wali semenjak meninggal Sunan Kudus dan Arya Penangsang.

“Kalau sejarahnya tokoh berpengaruh perkembangan di Jepang itu adalah Syaid Doro Ali Al-Idrus, beliau adalah salah satu tokoh yang melestarikan masjid ini. Kalau dulunya masjid ini dulunya dibangun oleh Arya Penangsang dan Sunan Kudus, ada beberapa tokoh tapi riwayatnnya tidak terlacak. Dan tokoh ini yang masih dekat, dan kemudian menghidupkan kembali tradisi Rebo Wekasan,” kata Aziz.

Tradisi Rebo Wekasan di hari Rabu terakhir bulan Safar kemudian digelar sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam sampai sekarang.

(mcs/erd)

Next Post

Menaker: RUU Cipta Kerja Sediakan Lapangan Kerja Sebanyak-banyaknya

Sel Okt 13 , 2020
Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyatakan hadirnya Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja merupakan jawaban tantangan terbesar dalam mempertahankan dan menyediakan lapangan kerja sebanyak mungkin. Menurutnya, setiap tahun terdapat sekitar 2,9 juta penduduk usia kerja baru yang memasuki pasar kerja sehingga membuat kebutuhan lapangan kerja baru sangat dibutuhkan. Apalagi, di tengah […]