Kemampuan nelayan Indonesia dalam memenuhi standar bertaraf global

Jakarta () – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengajak masyarakat Indonesia meningkatkan produksi dan konsumsi ikan dalam rangka memperingati Hari Ikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 21 November.

Hal itu merujuk pada potensi lestari sumber daya ikan nasional sebesar 12,54 juta ton/tahun dari perikanan umum dan laut, belum termasuk perikanan budi daya

"potensi lestari sumber daya ikan nasional sebesar 12,54 juta ton/tahun dari perikanan umum dan laut, belum termasuk perikanan budi daya," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti dalam webinar di Jakarta, Rabu (10/11).

Sejak 2004, KKP telah melaksanakan Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang bertujuan meningkatkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sekaligus menguatkan pasar domestik hasil perikanan Indonesia.

Dalam perkembangannya, kata dia, Program Gemarikan menjadi lebih intensif dengan diadopsinya pada program prioritas lainnya, seperti Program Percepatan Penurunan Stunting, Program Penanganan Darurat Bencana, dan Program Penanganan Dampak COVID-19 serta Program Peningkatan Imunitas dalam rangka menghadapi COVID-19.

Terkait penguatan pasar domestik hasil perikanan Indonesia, nun jauh di bagian timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Buru, Provinsi Maluku, nelayan-nelayan kecil setempat mampu berprestasi dunia, yakni bisa meraih sertifikasi ekolabel global perikanan dibuat oleh organisasi nirlaba internasional Marine Stewardship Council (MSC).

MSC sendiri adalah organisasi nirlaba internasional yang menetapkan standar berbasis sains dan diakui secara
global terhadap penangkapan ikan serta keterlacakan makanan laut yang berkelanjutan.

Label MSC biru pada produk makanan laut mengartikan bahwa produk berasal melalui perikanan tangkapan alam yang telah disertifikasi secara independen terhadap standar berbasis sains MSC.

Dalam kaitan itu, maka pada tanggal 28 Oktober hingga 2 November 2021, MSC Indonesia bersama mitra, bekerja sama dengan KKP dan Dinas KP Provinsi Maluku melakukan kegiatan produksi film dokumenter pendek mengenai perjalanan nelayan Pulau Buru menuju pengelolaan keberlanjutan perikanan di Desa Waipure, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Pulau Buru.

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Dr Abdul Haris Anwar S.Pi, M.Si. (FOTO /HO-MSC Indonesia)

Pembuktian

Kepala Dinas KP Provinsi Maluku Abdul Haris Anwar mengapresiasi yang dilakukan MSC saat ini untuk nelayan sangat baik dilakukan, karena berhasil menjaga semangat nelayan dan menghargai kontribusi mereka yang selalu menjaga kualitas hasil tangkapan serta lingkungannya.

"Keberhasilan nelayan Pulau Buru dalam mendukung keberlanjutan stok ikan nasional menunjukkan kemampuan nelayan Indonesia dalam memenuhi standar bertaraf global," katanya.

Hal itu menjadi bukti bahwa kerja sama pemerintah, pelaku usaha, organisasi, nelayan lokal serta masyarakat mampu memenuhi standar kredibel yang membutuhkan sinergi multis-pemangku kepentingan untuk mewujudkan dan mempertahankan kualitas nelayan serta produk perikanan Indonesia.

Program perbaikan perikanan (Fisheries Improvement Project/FIP) yang telah dilakukan bersama Dinas KP Provinsi Maluku itu yaitu memperbaiki data perikanan melalui program data I-Fish.

Data tersebut selalu diperbaharui dan dapat digunakan oleh pemangku kepentingan sesuai dengan standar operational prosedur (SOP).

Kegiatan perbaikan perikanan dilakukan melalui bimtek juga diberikan untuk nelayan skala kecil mengenai penangkapan ikan yang baik agar bisa menjaga kualitas pasca-penangkapan di laut.

Karena itu, apresiasi tinggi patut diberikan bagi mereka yang telah menjadi salah satu sumber penyedia protein hewani dan bekerja keras memenuhi standar keberlanjutan global itu.

Pembuatan film dokumenter nelayan Pulau Buru yang bertepatan dengan Hari Ikan Nasional 2021 akan menginspirasi perikanan dan nelayan wilayah lainnya secara nasional maupun global untuk mewujudkan upaya bersama
dalam program perbaikan perikanan menuju keberlanjutan sumber daya laut.

Hal ini juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan perhatian dan publikasi secara luas sehingga kesadaran masyarakat
maupun pemangku kepentingan terhadap upaya nelayan Pulau Buru tersebut.

Selain itu publikasi juga berpotensi mendorong kesadaran konsumen produk perikanan laut dalam mencapai perikanan berkelanjutan.

Baca juga: Prestasi dunia kelompok nelayan tuna Pulau Buru raih ekolabel MSC

Baca juga: KKP: Konsumsi ikan penting guna ciptakan generasi tangguh dan unggul

Ditangkap berlebihan

Direktur MSC di Indonesia Hirmen Syofyanto mengemukakan permintaan makanan hasil laut terus meningkat, namun masih terlalu banyak perikanan di dunia yang ditangkap secara berlebihan.

Laporan State of World Fisheries and Aquaculture 2020 dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menggambarkan mengapa penangkapan ikan dan makanan laut sangat penting untuk ketahanan pangan dan mata pencaharian ratusan juta orang.

Berdasarkan analisis informasi dan data menunjukkan proporsi yang lebih tinggi dari perikanan sekarang beroperasi pada tingkat yang tidak berkelanjutan ketimbang sebelumnya.

Penangkapan ikan sangat penting untuk ketahanan pangan dan mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia.

Mengapa demikian, karena sekitar 39 juta orang dipekerjakan langsung dalam penangkapan ikan, di mana sebagian besar terjadi di negara berkembang.

Lebih banyak lagi pihak yang dipekerjakan dalam rantai pasokan makanan laut.

Separuh dari mereka adalah perempuan, yang sering bekerja di posisi bergaji rendah dengan jaminan kerja rendah.

Perikanan perlu dikelola secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa masyarakat yang bergantung padanya dapat bertahan dan berkembang.

Standar MSC memberikan kerangka kerja bagi perikanan untuk bekerja menuju keberlanjutan, dan sertifikasi dapat menawarkan manfaat ekonomi yang signifikan.

Untuk itu, program perbaikan perikanan MSC bersama KKP terus mengembangkan FIP Indonesia.

Nelayan perikanan Pulau Buru telah bergerak menuju keberlanjutan lebih dari delapan tahun terakhir bersama mitranya Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), organisasi nasional yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat nelayan demi mencapai keberlanjutan.

Perjalanan nelayan bersama mitranya itu berupaya untuk mendukung nelayan pancing ulur ikan tuna sirip kuning (yellowfin tuna) dalam mencapai sertifikasi MSC.

Kerja keras bersama itu akhirnya membuahkan hasil maksimal, yakni tatkala nelayan skala kecil yang beroperasi dengan armada kapal berkapasitas satu atau dua orang menggunakan pancing ulur ini berhasil menunjukkan praktik keberlanjutannya terhadap standar global MSC.

Perikanan tuna Serikat Nelayan Fair Trade Pulau Buru Utara, Maluku pada bulan Mei 2020 menjadi perikanan tuna sirip kuning pancing ulur pertama di dunia dan perikanan kedua di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi perikanan MSC.

Perikanan di Buru telah menjalankan program FIP sejak April 2013 dan tersertifikasi menurut standar perikanan tangkap Fair Trade
Amerika Serikat (AS) sejak Oktober 2014.

Kisah kerja keras nelayan kecil meraih standar global sertifikat ekolabel perikanan itu, sekali lagi menjadi fakta kerja bahwa lautan Indonesia dengan sumber daya berlimpah itu, mampu dikelola dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, dan bisa terus ditularkan pada wilayah lain di Tanah Air,

Baca juga: Nelayan Buru raih sertifikat ekolabel global dibuat film dokumenter

Baca juga: MSC apresiasi nelayan Pulau Buru-Maluku jaga keberlanjutan perikanan
 

Oleh Andi Jauhary
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © 2021