Pandemi Corona Dinilai Jadi Kompetisi Kepala Daerah-Menteri Maju Pilpres 2024

Poster

Jakarta

Guru Besar Fisipol Universitas Airlangga (Unair) Kacung Marijan mengatakan pandemi virus Corona (COVID-19) dapat menjadi ajang kompetisi kepemimpinan untuk maju Pilpres 2024. Dia mengatakan ada dua kategori calon bakal capres 2024, yaitu kepala daerah dan menteri yang sukses menangani COVID-19.

“Kalau menurut saya ini akan berlanjut (dampak pandemi Corona) di akhir tahun ini dan tahun depan. Saya kira ini kompetisi besar dan saya kira bagus untuk bibit-bibit kepemimpinan untuk calon presiden 2024,” kata Kacung, dalam Rilis Survei Lembaga Indikator Politik secara daring bertema ‘Efek Kepemimpinan dan Kelembagaan dalam Penanganan COVID-19’, Kamis (20/8/2020).

Menurut Kacung, ada dua kategori pemimpin yang memiliki modal besar maju di Pilpres 2024. Pertama, adalah kalangan kepala daerah, sedangkan yang kedua adalah menteri yang berhasil menangani pandemi COVID-19.

Baca juga: Berikut 10 Daerah dari Zona Merah Jadi Kuning, 4 ke Zona Hijau

“Menurut saya ada dua kelompok besar calon presiden 2024 itu. Satu, kepala daerah, kedua adalah pusat yang memang terkait dengan ini. Jadi menteri-menteri yang terkait handling COVID punya modal besar untuk leadership 2024. Tapi tergantung bagaimana mereka sukses atau tidak,” ujar Kacung.

Lebih lanjut, Kacung menegaskan sumber daya manusia yang memiliki modal besar untuk maju di Pilpres 2024 berasal dari para menteri dan gubernur yang khususnya berada di Pulau Jawa. Khususnya, pemimpin yang sukses menangani COVID-19 serta dampaknya di bidang non kesehatan.

“Jadi resource leadership 2024 itu adalah gubernur-gubernur yang ada sekarang, terutama gubernur di Jawa dan beberapa menteri yang terkait langsung dengan how to handle COVID related. Jadi bukan hanya kesehatan tapi non kesehatan,” ujarnya.

Baca juga: Bapaslon Independen Gagal Maju Pilwali Blitar, COVID-19 Disebut Biang Keroknya

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Saan Mustopa mengatakan hal yang serupa. Menurutnya, masa pandemi COVID-19 ini adalah ujian kepemimpinan bagi para pemimpin di tingkat pusat maupun daerah.

“Pandemi ini memang semua sudah merasakan lah dampaknya, tapi khusus bagi para pemimpin baik di level nasional maupun daerah, saya pahami ini semacam ujian kepemimpinan karena memang ujian kepemimpinan ini diuji saat kita dihadapkan pada sebuah krisis,” kata Saan.

Saan mengatakan krisis kesehatan saat ini akan menguji seorang pemimpin khususnya dalam melakukan koordinasi. Menurutnya, apabila seorang pemimpin memiliki sikap kepemimpinan yang rendah, maka tentunya ia akan gamang dalam menghadapi pandemi COVID-19.

“Bagaimana seorang pemimpin di tengah situasi krisis ini mengelola pemerintahannya, berkoordinasi dan leadership kepemimpinanya, nah dia akan diuji. Nah kalau misalnya leadershipnya rendah. Kemampuan untul mengkonsolidasikan kekuatannya juga rendah, maka menghadapi krisis ini akan gamang, bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan,” tutur Saan.

(rfs/rfs)

Next Post

Ketua KPU ungkap pentingnya peran masyarakat sipil dalam reformasi elektoral

Kam Agu 20 , 2020
– Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menilai pentingnya peran masyarakat sipil dalam reformasi elektoral di Indonesia. Sebagai mitra strategis KPU, peran strategis masyarakat sipil akan membuat iklim demokrasi Tanah Air menjadi semakin baik. (KPU/Kuntum Riswan/Fahrul Marwansyah/Nus Mulkan)