Napi di Medan Meninggal Diduga Dianiaya, Polisi Beri Penjelasan

Ilustrasi Penjara, Sel, Lapas, Jeruji Besi

Medan

Salah satu tahanan di Medan, Sumatera Utara, bernama Rudolf Simanjuntak meninggal dunia saat dalam proses penahanan. Keluarga menduga ada penganiayaan yang terjadi sehingga membuat laporan ke Polda Sumatera Utara (Sumut). Polisi pun memberikan penjelasan.

Rudolf Simanjuntak merupakan tersangka dalam kasus narkoba. Dia ditahan di RTP Polrestabes Medan sejak Juli 2020.

“Jadi kronologisnya kurang lebih kan dia ketangkap pada tanggal 14 Juli. Terus ditahan pada tanggal 21 Juli di Polrestabes Medan dengan perkara narkoba,” kata pengacara keluarga korban dari Korps Advokat Alumni UMSU (KAUM), Yusri, saat dimintai konfirmasi, Rabu (19/8/2020).

Yusri menjelaskan selama di tahanan, ada salah seorang keluarganya yang menjenguk ke sana. Keluarga tersebut menyebut Rudolf dalam keadaan sehat.

“Jadi selama di tahanan itu, adalah di jenguk sama pihak keluarganya lah. Jadi dijenguknya ke sana, ngobrol lah orang itu gimana bang di dalam. Ya ginilah, sehat. Kemudian, keluarganya (adik Rudolf) menanyakan itu kenapa, ditengoknya ada birulah jempol tangan sebelah kiri sama kaki sebelah kiri. Nah jadi dibilang sama mendiang Rudolf, ini katanya dijepit sama kursi. Kursi besi di sana,” sebut Yusri.

Setelah itu, keluarga disebut tak pernah mengunjungi tahanan tersebut. Pada 14 Agustus 2020, keluarga disebut mendapat surat kematian dari RS Bhayangkara Medan.

“Setelah itu sampailah di tanggal 14 Agustus, dapatlah surat kematian dari RS Bhayangkara. Jadi dapat surat itu, diantarkanlah jenazah ke rumah duka di Jalan Horas, KM 13 Binjai,” sebut Yusri.

Baca juga: Napi Lapas Jember Tewas Dianiaya Teman Satu Sel, Ini Kronologinya

Setelah mayat sampai di rumah duka, kata Yusri, pihak keluarga melihat ada luka-luka di tubuh mayat seperti jidat biru lebam, bekas sulutan rokok di tangannya serta kaki kiri bengkak. Hal tersebut menimbulkan dugaan ada penganiayaan.

“Jadi kita indikasikan kan bahwasanya benar ada penganiayaan. Dugaannya seperti itulah. Dugaan kita seperti itu, jadi berdasarkan dugaan inilah kita buat laporan kemarin ke Polda Sumut. Jadi kita buat laporan kesana dengan dugaan tindak pidana tersebut. Pengembangannya kita pantau terus lah,” ujar Yusri.

“Jadi yang kita buat laporan ke Polda itulah itu indikasinya dari dugaan tindak pidana penganiayaan itulah, dugaan kita. Jadi kita laporin semalam, lagi diproses mungkinlah. Baru semalam kita buat laporan,” sambung Yusri.

Yusri mengatakan pihaknya mengembalikan sejumlah ‘uang duka’ dari seorang polisi di Resnarkoba Polrestabes Medan.

“Cuma kita kan gak kita ambil, kita merasa janggallah di situ, kok tumben-tumbenan polisi seperti itu. Ada apa gitu. Jadi kita kembalikan uang itu,” ujar Yusri.

Dia mengatakan keluarga berharap kasus ini diusut tuntas. Dia meminta jika ada dugaan penganiayaan, maka terduga pelaku harus diungkap.

“Kalau bisa nanti, diautopsi lagi di apa korban supaya terungkaplah kasus ini. Supaya terang benderang. Dengan harapan semua ini terbongkar, dengan cara kita autopsi dan terang benderang lah. Kalau ada kejanggalan benar benar ini tindak pidana penganiayaan menyebabkan kematian tolong diungkaplah siapa pelakunya,” pungkas Yusri.

Kasat Narkoba Polrestabes Medan, AKBP Ronny Nicolas Sidabutar, membenarkan Rudolf Simanjuntak telah meninggal dunia di RS Bhayangkara. Dia mengatakan Rudolf memang ditahan sejak Juli 2020.

“Pertama memang benar meninggal dunia di RS Bhayangkara. Yang bersangkutan itu tersangka narkoba. Ditangkap tanggal 15, ditahan tanggal 21 Juli. Sudah ditahan, dan penahanannya dilakukan di RTP Polrestabes Medan,” sebut Ronny.

Ronny menyebut tahanan tersebut sempat mengeluh sakit. Dia mengatakan tahanan itu sempat dirawat, namun wafat di hari berikutnya.

“Menurut petugas penjagaan RTP, itu mengeluh sakit terus kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Terus dirawat dan besoknya meninggal dunia,” ujar Ronny.

Ronny tidak mengetahui persis apa keluhan dari Rudolf. Dari keterangan pihak penjagaan, tahanan itu mengeluh tubuhnya panas dan kakinya sakit.

“Ya saya nggak tahu kalau ngeluh-ngeluh. Keluhannya di penjagaan sehingga di rawat, mengeluhnya panas, kemudian kakinya sakit, ada kemungkinan dia bilang ada asam urat sehingga dibawalah ke rumah sakit,” sebut Ronny.

Baca juga: Seorang Napi Lapas Jember Ditemukan Tewas dengan Luka Tusuk

Dia mengatakan keluarga tahanan awalnya menerima dan tidak akan melakukan autopsi terhadap jenazah Rudolf. Namun, pihak kepolisian tetap meminta dilakukan visum.

“Itu ada surat pernyataannya sehingga pada saat itu ya kita serahkan ke keluarga dengan baik baik. Intinya pada awalnya, keluarganya itu sudah menerima surat pernyataan gitu,” ujar Ronny.

“Visumnya sudah kita minta, tapi kalau autopsi kan yang meminta itu harus penyidik yang dimana dia laporkan itu. Visum karena awalnya yang bersangkutan tidak bersedia diautopsi keluarganya, makanya saya tetap mintakan visum dan menunggu hasil visum,” sambungnya.

(isa/isa)

Next Post

Polisi Sita Baju Kimono hingga Kondom dari Tempat Karaoke di BSD

Kam Agu 20 , 2020
JAKARTA – Unit 4 Satgas TPPO dan Unit 1/VC Subdit III Dittipidum Bareskrim Polri menggerebek tempat karaoke di kawasan BSD, Jalan Lengkong Gudang, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Dari lokasi tersebut, polisi turut menyita sejumlah barang bukti. Barang bukti yang disita berupa kwitansi 1 bundel, voucher ladies 1 bundel, uang Rp730.000 […]