MPR: 4 Konsensus Kebangsaan Jadi Kekuatan Jawab Tantangan Bernegara

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengungkapkan museum memiliki kemampuan untuk membangkitkan kembali idealisme dan nasionalisme bangsa Indonesia.

Jakarta

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyebut nilai-nilai empat konsensus kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi pedoman untuk menjawab tantangan berbangsa kini dan di masa datang.

“Pemahaman kita terhadap empat konsensus Kebangsaan bisa menjadi kekuatan untuk menjawab berbagai tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (1/11/2020)

Dalam Sosialisasi Empat Pilar secara daring, Rerie, sapaan akrabnya, menyebut saat ini tantangan berbangsa dan bernegara datang dari dalam dan luar negeri. Antara lain dalam bentuk lunturnya nasionalisme, semakin sempitnya pemahaman Pancasila dan agama, serta krisis perekonomian yang mengancam.

Baca juga: Libur Panjang, Waket MPR Ingatkan Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Lebih dari itu, masuknya ideologi asing yang mengikis nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki anak negeri, intoleransi, dan menurunnya kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan tantangan besar yang juga harus dihadapi.

“Di dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa terdapat nilai-nilai yang mengandung visi dan karakter bangsa,” tegas Legislator Partai NasDem itu.

Ia menegaskan tanpa visi, kita sebagai bangsa tidak punya arah yang jelas dalam membangun dan mengelola Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Tantangan berbentuk ancaman terhadap bangsa dan negara bisa dihadapi dengan peningkatan pemahaman visi dan karakter bangsa yang menjunjung tinggi persatuan, integritas dan nasionalisme yang tinggi.

Rerie menilai bergabungnya Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 5 September 1945 merupakan pengamalan nilai-nilai persatuan dan komitmen yang kuat terhadap NKRI.

“NKRI harga mati. Kesepakatan di masa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang diikrarkan dan dipegang teguh oleh para pemuda jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, diamalkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII yang meleburkan wilayah kedaulatan kerajaannya ke dalam NKRI,” ujar Rerie.

Ia mengungkapkan padahal berdasarkan Perjanjian Giyanti, Ngayogyakarta Hadiningrat diakui kedaulatannya oleh Hindia Belanda sebagai negara. Tetapi para pemimpin Ngayogyakarta ketika itu lebih memilih bersatu mewujudkan NKRI.

Pada kesempatan sosialisasi yang disaksikan para tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rerie mengajak para tenaga kesejahteraan sosial untuk mewariskan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung pada empat konsensus Kebangsaan dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19.

Baca juga: MPR Paparkan Cara Dorong 30% Keterwakilan Perempuan di Parlemen

Para TKSK, menurut Rerie, dapat membantu pemerintah dalam pencegahan penyebaran COVID-19 dengan memberi pengertian dan mengajak masyarakat agar bersedia dites.

“Mengajak masyarakat untuk melakukan test terkait COVID-19 merupakan bagian dari upaya menjaga masyarakat dari terpapar virus Corona,” ujarnya.

Menurutnya, dengan membantu melakukan langkah preventif dalam pengendalian COVID-19 sama saja dengan melaksanakan nilai-nilai empat konsensus kebangsaan yang mengandung nilai persatuan, gotong-royong untuk mewujudkan kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai informasi, acara tersebut turut disaksikan H. Subardi, S.H., M.H (Anggota DPR RI Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta), para anggota Laskar Jogja, para anggota Yayasan Natas Nitis Netes, dan jajaran pimpinan DPW Partai NasDem Yogyakarta di Taman Wisata Candi Prambanan, Yogyakarta.

(akn/ega)

Next Post

Kesalahan besar mengaitkan agama dengan terorisme

Ming Nov 1 , 2020
Jakarta – Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin beserta tokoh lintas agama telah mengadakan konferensi pers terkait pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Inti konferensi pers itu mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam dalam menyikapi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Abdullah Abzorov yang beragama Islam terhadap […]