Malinau () – Mungkin pernah mendapat saran dari teman, kiat untuk meredakan batuk yang membandel dengan minum satu sendok makan madu asli plus seiris jeruk nipis ?

Saran ini terdengar sudah menjadi pengetahuan umum dan benarkah hal itu ? Ternyata secara medis –dalam kondisi tertentu– madu memang bisa menjadi obat batuk mujarab.

Madu mengandung aneka zat gizi seperti karbohidrat, protein, asam amino, berbagai vitamin, mineral, dekstrin, pigmen tumbuhan dan komponen aromatik yang bisa menekan rasa gatal tenggorokan karena rasa manis alami memicu produksi air liur guna melembabkan tenggorokan kering.

Fakta ilmiah tentang madu telah lama diungkap sejumlah penelitian. Termasuk oleh para ilmuwan pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) di China, 20-26 September 1993.

Senyawa fitonutrien dan sejumlah vitamin pada madu merupakan antioksidan alami yang dapat menangkal radikal bebas dalam tubuh. Berbagai antioksidan itu tentu bermanfaat juga meredakan peradangan yang bisa memicu batuk.

Hasil penelitian juga menyebutkan sejumlah manfaat madu lain mempercepat penyembuhan luka, dan menjaga kesehatan jantung.

Selain menangkal radikal bebas, senyawa fitonutrien yang terkandung dalam madu juga dapat memperkuat sel-sel imun dalam tubuh.

Madu ternyata bagus juga bagi ginjal dan usus karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa) sehingga mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun. Walau memiliki kandungan asam yang tinggi madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.

Meski begitu, konsumsi madu juga tidak boleh berlebihan dan mewaspadai penyakit atau kondisi tertentu, termasuk orang yang alergi, ibu hamil dan anak kurang dari satu tahun.

Selain itu, agar madu menjadi obat tentu harus murni, bukan dicampur dengan berbagai bahan lain, misalnya pemanis buatan atau gula aren.

Bagi pedagang madu ataupun calon pembeli, hal ini yang sering menjadi masalah, yakni pedagang kadang kesulitan meyakinkan calon pembeli jika madu hutan/alami yang ia jual asli. Sebaliknya calon pembeli ragu membeli karena merasa tidak ada jaminan madu tersebut asli.

Solusi melalui legalitas

Masalah tentang keaslian madu ini juga menjadi tantangan bagi warga pedalaman Kalimantan Utara yang daerahnya memiliki potensi bagi pengembangan komoditas hasil hutan bukan kayu ini.

Salah satu kawasan pedalaman Kalimantan Utara yang memiliki potensi madu cukup besar berada di daerah dataran tinggi Apau Kayan, meliputi Desa Data Dian, Kayan Hilir Kabupaten Malinau.

Guna memberikan kepercayaan pasar, maka Madu Kayan –sebutan untuk madu hutan dari dataran tinggi Apau Kayan– membutuhkan legalitas.

Koordinator Program KKI (Komunitas Konservasi Indonesia) Warsi, Furwoko, menilai solusi agar memberikan kepercayaan pasar, yakni adanya legalitas. Legalitas dimaksud agar pengelola Madu Kayan harus memiliki izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan saat ini dalam proses di Dinas Kesehatan Malinau.

Warsi adalah sebuah lembaga non-profit khusus pendampingan warga sekitar hutan yang memiliki misi untuk pelestarian alam serta meningkatkan kesejahteraan warga di pedalaman.

PIRT bisa membuat pasar yakin jika Madu Kayan dapat dijamin mutu dan kualitasnya sesuai standar kesehatan.

Setelah madu Kayan mendapatkan nomor izin PIRT, maka produk ini bisa langsung dipasarkan. Caranya dengan menjual melalui berbagai media baik marketplace (tempat per jual beli online), ruang pameran, pasar konvensional atau dengan memasarkan via aplikasi Potensi Ruang Mikro Aplikasi Informasi Desa (PRM AID) Data Dian, yakni sebuah website desa.

Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau mendukung penuh perizinan PIRT itu, yakni telah memberikan sertifikasi pelatihan keamanan pangan Kelompok Madu Uyang Lahai, belum lama ini.

Pelatihan ini diikuti juga oleh desa binaan KKI Warsi seperti Desa Long Jalan memiliki produk Madu hutan dan desa Long Lake yang
memiliki produk gula tebu.

Potensi Madu Kayan sekali panen biasanya menghasilkan 100 – 300 liter madu. Musim panen biasanya pada Oktober. Satu pohon bisa dipanen sekali sampai tiga kali, hal ini dikarenakan dalam satu pohon terdapat beberapa sarang lebah bisa lebih sehingga produksi Madu Kayan pada dasarnya selalu melimpah.

Berburu madu

Sumber madu di dataran tinggi Apau Kayan masih mengandalkan potensi yang disediakan oleh alam sehingga warga belum berminat melakukan peternakan lebah.

Alasannya, selain potensi tersedia melimpah juga madu hutan dianggap lebih berkhasiat ketimbang hasil budi daya.

Berburu madu diawali dengan menandai sejumlah pohon raksasa yang menjadi habitat lebah bersarang. Biasanya lebah menyukai pohon nyawai (Ficus variegata) dan pohon bangaris/kempas (Koompassia malaccensis Benth). Jenis pohon yang disebut raksasa selain diameter batang pohon besar juga bisa mencapai ketinggian 30-60 meter.

Pohon nyawai dan pohon bangaris selain berukuran raksasa juga termasuk jenis pohon langka sehingga kelestarian harus dijaga.

Berkat dukungan KKI Warsi, pemerintah daerah, dan Kementerian Kehutanan kini beberapa desa di pedalaman Kaltara sudah memiliki status legal sebagai hutan desa dan hutan adat yang strategis bagi pelestarian alam. Misalnya mencegah pembabatan pohon langka oleh penebang liar.

Apalagi hutan Apau Kayan ini merupakan bagian dari Heart of Borneo (HoB). Jantung Kalimantan atau HoB adalah kesepakatan pelestarian yang dirintis World Wide Fund for Nature untuk melindungi wilayah hutan Kalimantan seluas 220.000 kilometer persegi atau sekitar 22 juta hektare. Perjanjian ini ditandatangani oleh pemerintah Brunei, Indonesia, dan Malaysia di Bali pada 12 Februari 2007 untuk mendukung inisiatif ini.

Kawasan Jantung Kalimantan meliputi hutan hujan tropis dataran tinggi di Kalimantan (termasuk Kaltara) Serawak dan Sabah hingga ke dataran rendah di Brunei.

Wilayah ini merupakan habitat bagi 10 spesies endemik primata, lebih dari 350 spesies burung, 150 spesies reptil dan amfibi, dan 10.000 spesies tumbuhan. Sejak 2007 sampai 2010, sebanyak 123 spesies baru ditemukan di wilayah ini.

Lebah madu raksasa atau Apis dorsata adalah jenis serangga yang ditemukan di Apau Kayan. Lebah raksasa ini mengumpulkan madu dari ratusan pohon berbeda yang ada di sekitar habitat lebah ini.

Di atas pohon, terlihat beberapa sarang lebah dengan lebar sekitar 1,5 meter dan tinggi 70 centimeter menempel pada dahan-dahan pohon.

Para pria Apau Kayan usai menandai pohon-pohon raksasa yang memiliki sarang lebah madu, maka mereka menyiapkan perlengkapan untuk memanen madu. Bahan yang disiapkan rotan untuk memanjat, ember dan sejenis akar untuk mengasapi sarang lebah.

Setelah membuat simpul bilah-bilah rotan menjadi alat bantu untuk memanjat, maka beberapa pria Apau Kayan ini menuju pohon yang sudah ditandai dan merancang jalur untuk memanjat nanti pada malam hari.

Begitu hari gelap, dan dingin malam di dataran tinggi Apau Kayan mulai mendekap, aktivitas memanjat pohon dimulai. Salah satu ujung tangga yang telah selesai, dikaitkan ke dahan yang kuat. Satu per satu kaki memijak tangga rotan menuju dahan pohon tempat sarang lebah, asa mereka tergantung.

Ini teknik warga pedalaman mengambil madu agar tidak jadi sasaran amukan lebah meski tanpa mengenakan baju APD (alat pelindung diri), yakni berburu saat malam hari.

Percikan bara dari pembakaran "payeng" (sejenis akar, istilah dari bahasa Dayak setempat) digunakan untuk membuat asap serta menjatuhkan sarang lebah dari dahan-dahan pohon.

Suara lebah berdengung marah beterbangan di dahan pohon tanpa tahu musuh yang menjadi sasaran. Selanjutnya, ember wadah madu beserta sarang yang dipanen diulur turun ke bawah menggunakan tali.

Beberapa orang lainnya telah menunggu di bawah bersiap untuk memeras madu. Biasanya, satu kali panen bisa menghasilkan 100 – 300 liter madu per pohon.

Setiap musim panen di bulan Oktober, satu pohon bisa dipanen satu hingga tiga kali panen. Hal ini dikarenakan dalam satu pohon bisa lebih dari
satu sarang sehingga produksi madu selalu melimpah.

Guna menyeragamkan harga dari kelompok – kelompok pemburu madu itu, warga Data Dian telah berhasil membentuk kelompok usaha Madu
Uyang Lahai.

Jhones, warga Data Dian mengatakan, kelompok Madu Uyang Lahai ini yang akan membeli dan memasarkan madu hutan hasil panen masyarakat. Madu yang dijual berlabel Madu Kayan dengan ukuran 250 mililiter (ml). Satu botol madu dijual Rp100 ribu.

Hafis Rafi Insani, Fasilitator desa Data Dian menuturkan daerah mereka sudah dikenal sebagai penghasil madu hutan.

Sebelumnya, masyarakat desa hanya menjual madu curah namun kini produksi mereka sudah dikemas ulang oleh pemodal di Malinau. Hal ini yang mendasari terbentuknya Kelompok Madu Uyang Lahai.

Melihat kondisi itu, maka langkah Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau melalui sertifikasi pelatihan keamanan pangan sebelum mengeluarkan PIRT sangat tepat guna meningkatkan nama dagang Madu Kayan baik di pasar konvensional maupun marketplace.

Program pemerintah itu selaras juga dengan tujuan strategis KKI Warsi dalam pendampingannya, yakni "Hutan alam tersisa di Indonesia terselamatkan dan masyarakat yang tinggal sekitar hutan sejahtera".
 

Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © 2022