Jakarta () – Sejumlah berita humaniora pada Kamis (6/10) yang masih hangat dan menarik untuk dibaca kembali, telah dirangkum. Di nya terdapat kisah "Salam Satu Nyali, Salam Satu Jiwa" dari Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Selain itu, terdapat pula warta mengenai Kementerian Agama yang datang untuk memberikan santunan bagi korban meninggal dunia dan luka-luka akibat banjir yang menyebabkan tembok pembatas di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Cilandak, Jakarta Selatan.

Selengkapnya dapat anda baca melalui tautan di bawah ini:

Lilin-lilin perdamaian demi "Salam Satu Nyali, Salam Satu Jiwa"
 

Tiga hari berturut-turut atau sejak meletusnya Tragedi Kanjuruhan, setiap malam di Kota Surabaya dipenuhi lilin-lilin menyala. Insiden di Stadion Kanjuruhan terjadi pada Sabtu (1/10) malam seusai pertandingan Arema FC melawan Persebaya. Besoknya, Minggu, puluhan suporter berkumpul, menyalakan lilin dan berdoa di Taman Apsari di Jalan Gubernur Suryo Surabaya.

Kemensos alokasikan tambahan anggaran untuk korban tragedi Kanjuruhan

Kementerian Sosial (Kemensos) mengalokasikan tambahan anggaran santunan untuk ahli waris dan korban luka dari tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur karena jumlah korban tewas yang terkonfirmasi, bertambah dari 125 orang menjadi 131 orang.

Titik Nol IKN sementara ditutup untuk umum

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), menutup sementara Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nus untuk kunjungan wisata karena karena sedang tahap pembangunan infrastruktur IKN.

Penerima vaksin COVID-19 dosis ketiga capai 63,92 juta penduduk RI

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat mencapai 63,92 juta jiwa hingga Kamis pukul 12.00 WIB.

Kemenag beri santunan korban banjir di MTsN 19 Jakarta

Kementerian Agama akan memberi santunan bagi korban meninggal dunia dan luka-luka akibat banjir yang menyebabkan tembok pembatas di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Cilandak, Jakarta Selatan, roboh.
​​​​​​​

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © 2022