Kejagung Periksa 2 Mantan Pejabat BTN dalam Kasus Gratifikasi Eks Dirut BTN

Kapuspenkum Kejagung Hari Setiyono (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan kasus Djoko Tjandra di Gedung Bundar, Kejagung, Jakarta, Selasa (4/8/2020). Kejaksaan Agung (Kejagung) mendalami dugaan adanya pelanggaran pidana yang dilakukan Jaksa Pinangki Sirna Malasari terkait pertemuannya dengan Djoko Tjandra.   ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.  *** Local Caption ***

Jakarta

Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mengusut kasus dugaan korupsi berupa gratifikasi atau suap yang menyeret mantan Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) H Maryono. Hari ini penyidik memeriksa dua mantan pejabat BTN sebagai saksi dalam perkara ini.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono mengatakan dua mantan pejabat BTN yang diperiksa sebagai saksi yakni mantan Direktur Finance PT BTN Hulmansyah dan mantan Kepala Divisi CMLD BTN tahun 2014-2016 Viator Simbolon.

“Saksi yang diperiksa atau dimintai keterangannya hari ini yaitu Hulmansyah selaku mantan Direktur Finance PT BTN, Viator Simbolon selaku selaku mantan Kepala Divisi CMLD BTN tahun 2014 sampai 2016,” kata Hari dalam keterangan pers tertulisnya, Selasa (10/11/2020).

Baca juga: Kejagung Tetapkan Satu Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Dirut BTN

Hari menerangkan kedua saksi diduga mengetahui proses pemberian fasilitas kredit PT Pelangi Putra Mandiri maupun PT Titanium Property kepada Bank BTN cabang Samarinda dan Jakarta. Pemeriksaan kedua mantan pejabat BTN juga dilakukan untuk mencari alat bukti.

“Karena kedua saksi pada saat kejadian tindak pidana korupsi tersebut, kedua pejabat diduga banyak mengetahui proses pemberian fasilitas kredit kepada PT Pelangi Putra Mandiri (PPM) maupun PT Titanium Property pada BTN cabang Samarinda dan BTN Jakarta cabang Harmoni yang pada akhirnya menyebabkan status kredit kedua perusahaan dalam kondisi macet atau kolektibilitas 5,” ungkapnya.

“Pemeriksaan saksi dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya,” sambung Hari.

Diketahui dalam kasus BTN, Kejaksaan Agung telah menetapkan 5 tersangka dalam kasus gratifikasi atau suap terhadap mantan Direktur Utama Bank BTN, Maryono. Mereka adalah Maryono itu sendiri, kemudian Direktur Utama PT Pelangi Putera Mandiri Yunan Anwar, menantu dari Maryono, Widi Kusuma Purwanto, Komisaris PT Titanium Property, Ichsan Hasan dan Komisaris Utama PT Pelangi Putra Mandiri, Ghofir Effendy.

Baca juga: Menantu Eks Dirut BTN Jadi Tersangka Baru Kasus Gratifikasi, Langsung Ditahan

Hari menerangkan kasus ini bermula pada 2014 saat PT Pelangi Putra Mandiri mengajukan kredit ke Bank BTN senilai Rp 117 miliar. Dalam perjalanannya, kredit ini bermasalah dan mengalami kolektibilitas 5 atau macet.

“Ternyata diduga, dalam pemberian fasilitas kredit tersebut ada dugaan gratifikasi atau pemberian kepada tersangka atas nama HM, yang dilakukan oleh YA senilai Rp 2,257 miliar caranya dengan mentransfer uang itu melalui rekening menantu dari tersangka HM,” lanjut Hari.

Kemudian, kata Hari, pada 2013, tersangka H Maryono yang menjabat sebagai Direktur Utama Bank BTN itu pun juga menyetujui pemberian kredit pada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar. Saat itulah, terjadi deal-dealan sehingga pihak PT Titanium Property memberikan gratifikasi senilai Rp 870 juta dan ditransfer lewat menantu H Maryono, Widi Kusuma Purwanto.

“Tersangka HM itu pada tahun 2013 selaku Direktur Utama itu juga menyetujui tentang pemberian kredit kepada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar dan diduga dalam pemberian fasilitas kredit tersebut, pihak PT Titanium Property memberikan uang atau gratifikasi senilai Rp 870 juta dengan cara yang sama, ditransfer ke rekening menantunya atas nama tersangka HM,” tuturnya.

(eva/eva)

Next Post

Ketua MPR luncurkan buku ke-18 refleksikan pemikiran

Sel Nov 10 , 2020
Virus corona adalah sesuatu yang nyata, bukan bagian dari teori konspirasi maupun sekadar wacana. Jakarta – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan buku ke-18 berjudul Tetap Waras, Jangan Ngeres yang memuat refleksi pemikiran dirinya selama setahun terakhir. Bamsoet menjelaskan bahwa buku tersebut terbagi dalam dua bagian, sebelum dan sesudah Indonesia […]