Jakarta () – Halawiah tidak menyangka keputusan untuk mendaftar menjadi peserta Program Kartu Prakerja pada awal 2021 akan memberikan dampak jangka panjang dalam hidupnya.

Ditemui dalam acara Kartu Prakerja di Bali, secara terbuka dia mengaku, pada awalnya tertarik mengikuti program yang bertujuan meningkatkan kompetensi angkatan kerja di Indonesia itu untuk mendapatkan insentif.

Siapa sangka, bukan cuma bantuan insentif untuk melewati pandemi yang didapat dari Kartu Prakerja, tapi juga ilmu dan pengalaman yang bisa meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.

Perempuan berusia 31 tahun itu pertama kali mendengar soal Kartu Prakerja dari sang suami, yang mendorongnya mendaftar mengikuti program itu ketika diluncurkan Presiden Joko Widodo pada awal 2020.

Mendaftar menjadi peserta sejak Gelombang 4, Halawiah baru diterima menjadi penerima manfaat pada Gelombang 12. Dia kemudian memilih pelatihan sebagai pembuat konten di YouTube dan membuat kue basah.

Pemilihan pelatihan itu bukan tanpa alasan. Perempuan asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, itu sebelumnya memang memiliki usaha berjualan, baik secara daring maupun luring.

Halawiah telah mulai berdagang baju sebagai reseller dan berbagai panganan buatan sendiri sejak 2018.

"Selesai pelatihan, saya coba buat yang kue basah untuk dijual lagi. Tapi insentif pertama saya pakai untuk kursus menjahit offline," ujar ibu dua anak itu.

Berkat kursus itu, Halawiah sejak 2021 sudah menyediakan jasa pembuatan baju tradisional Sulawesi Selatan yang disebut tokko atau dikenal juga dengan nama bodo.

Pelanggan Halawiah berdatangan berkat rekomendasi dari mulut ke mulut dengan penghasilan pertama yang didapatnya dari menjahit baju tokko bagi anak-anak, akhirnya dia belikan mesin jahit bekas demi menunjang usahanya.

Tidak hanya menjahit, dia juga semakin gencar untuk memperluas dagangan, tidak terbatas hanya kudapan, baju dan peralatan rumah tangga, tapi juga makanan beku. Usaha itu dilakukan, baik secara daring menggunakan Facebook dan WhatsApp maupun kios secara luring.

Khusus untuk berdagang secara luring, dia berjualan panganan, seperti gorengan dan puding di kantin sekolah.

"Perbedaannya berasa sekali, lumayan, naik dua kali lipat. Dulunya susah, sekarang lebih baik dari sebelum pandemi," tutur Halawiah.

Sebelum menjadi ibu rumah tangga sekaligus wirausaha, Halawiah dulu pernah bekerja sebagai honorer membantu bidan di kampung halamannya. Upah yang terkadang terlambat diterima menjadi salah satu alasan dia berhenti menjadi honorer di puskesmas.

Pendapatan yang diterima kini dengan berbagai usahanya jauh lebih besar dari ketika menjadi honorer. Sekitar Rp1 juta saat ini bisa diterimanya dalam sebulan.

Dia juga gencar berjualan pulsa dan token listrik menggunakan dompet digital atau e-wallet, yang penggunaannya semakin intens sejak menjadi peserta Kartu Prakerja.

Kerja keras menjadi kunci untuk peningkatan kesejahteraannya. Setelah selesai menjual makanan di kantin sekolah, Halawiah kemudian pulang untuk meneruskan menjahit baju yang sudah dipesan pelanggannya dan tidak lupa mengunggah dagangan di media sosial.

Dia bahkan harus begadang demi menyelesaikan pesanan jahitan sebelum terbang ke Bali untuk mengikuti acara Kartu Prakerja.

Pendapatan yang dia hasilkan digunakannya untuk membantu keuangan keluarga, mendukung penghasilan dari sang suami yang bekerja menjadi penyalur kopra dari Kabupaten Kepulauan Selayar untuk dikirim ke Makassar.

Halawiah tidak berencana berhenti mengembangkan kapasitas diri. Saat ini, ia tengah mengumpulkan modal untuk membuka toko untuk menjual berbagai jajanan di Pinrang, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Barat.

Dia juga mengapresiasi dampak positif yang diberikan pelatihan Kartu Prakerja kepada perkembangan dirinya, memberikan rasa percaya diri seiring dengan peningkatan keterampilan yang dia miliki.

"Kalau dulu tidak ikut Prakerja mungkin tidak ikut kursus jahit. Saya juga mungkin masih begitu saja," jelas Halawiah.

Pemberdayaan Perempuan

Manfaat pelatihan dari Program Kartu Prakerja sejak 2020 sampai dengan akhir 2022 telah diterima sekitar 16,45 juta orang di seluruh Indonesia. Untuk tahun ini, 55 persen penerimanya adalah perempuan, menurut data survei Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja.

Peserta Kartu Prakerja berasal dari wilayah paling barat di Aceh sampai dengan timur jauh di Papua, tersebar di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian mereka, mengingat partisipasi perempuan di pasar kerja masih berada di bawah laki-laki.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2022, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan berada di kisaran 54,2 persen. Jumlah itu jauh lebih rendah dari TPAK laki-laki yang mencapai 83,6 persen.

Tantangan lain adalah ketimpangan pendidikan dan kompetensi, dengan persentase angkatan kerja perempuan yang berpendidikan rendah lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari mengatakan bahwa kehadiran berbagai macam pelatihan online yang dimiliki ekosistem Kartu Prakerja mendukung perempuan untuk kembali ke pasar kerja, salah satunya lewat wirausaha mandiri dari rumah.

Perempuan sebagai pilar rumah tangga, yang menjadi dasar dari pergerakan roda ekonomi negara, dapat diperkuat kompetensinya melalui berbagai pelatihan yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Tidak hanya menjadi mandiri, pelatihan dari Kartu Prakerja juga diharapkan mendorong perempuan-perempuan Indonesia untuk berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan melalui berbagai pengembangan usaha yang mereka lakukan.

 

Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © 2022