Anak muda kental dengan keingintahuan yang tinggi, dengan begitu mampu menciptakan inovasi-inovasi

Jakarta () – Organisasi kepemudaan Indonesian Youth Diplomacy (IYD) menilai generasi muda dalam konteks Indonesia masa kini dan global memiliki peran besar membawa semangat Sumpah Pemuda untuk menginspirasi pembangunan modern.

"Sumpah Pemuda sebenarnya menjadi fondasi yang sangat penting bagi para pemuda-pemudi Indonesia untuk menginspirasi pembangunan modern," ujar Co-founder IYD, Gracia Paramitha dalam webinar "Sumpah Pemuda dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Merekat Perbedaan, Menjalin Kemanusiaan" di Jakarta, Rabu (26/10) malam.

Ia mengatakan, era teknologi saat ini idealnya dapat memicu kreativitas pemuda-pemudi untuk lebih modern. Teknologi harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membuat terobosan dan inovasi baru.

"Anak muda kental dengan keingintahuan yang tinggi, dengan begitu mampu menciptakan inovasi-inovasi yang lebih baik," tutur Gracia yang juga pengamat G20.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar pemuda-pemudi tetap mewaspadai dua hal yang menjadi ancaman.

Pertama adalah identitas. Di tengah keberagaman budaya cukup banyak generasi muda ingin menunjukkan jati dirinya, tapi kadang berlebihan sehingga stereotip identitas ini jadi bertabrakan dan berbenturan.

Dan kedua, lanjut dia, adalah disinformasi. Di era digital, disinformasi menjadi momok, karena itu menelusuri faktanya sangat diperlukan untuk mencegah salah informasi.

Gracia menyampaikan, stereotip dan disinformasi bisa diatasi dengan pemuda-pemudi yang berakal dan berakhlak.

Ia menjelaskan, berakal artinya mendapatkan pengetahuan dari berbagai hal. Sedangkan berakhlak memiliki moralitas dan etika.

"Saya percaya bahwa ketika kita semua bekerja bersama-sama, merangkul keberagaman itu sendiri maka kita semua akan pulih dan bangkit lebih kuat," tuturnya.

Dalam kesempatan sama, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengatakan, budaya maritim menyatukan semua warga Indonesia, termasuk kelompok pemuda, dari beragam etnik.

Menurut dia, hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya wawasan nus, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila.

"Konsep Bhineka Tunggal Ika, Sumpah Pemuda, Pancasila, itu mengelaborasi filosofi budaya maritim. Walau kita berbeda warna kulit, tetapi kita dipersatukan," katanya.

Baca juga: Hari Sumpah Pemuda, Pos Indonesia promo logistik kirim dua bayar satu
Baca juga: Surakarta bangkitkan semangat Sumpah Pemuda lewat Rhapsody Nus
 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2022