Denpasar () – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar simposium nasional untuk mewadahi perjuangan pengusulan jabatan profesor penciptaan seni di Tanah Air, hanya melalui jalur penciptaan karya seni.

"Perjuangan doktor penciptaan seni dan desain di semua perguruan tinggi di Indonesia untuk mencapai jabatan Profesor Penciptaan Seni/Desain diberlakukan tidak adil," kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr Wayan "Kun" Adnyana di Denpasar, Jumat (8/4).

Menurut dia, ketidakadilan untuk mencapai jabatan Profesor Penciptaan Seni karena ada aturan syarat khusus menulis artikel pada jurnal internasional.

Doktor penciptaan seni dan desain yang tergabung dalam Asosiasi Pencipta Seni Indonesia (Apesi) pun telah berikrar akan tetap maju mengusulkan jabatan profesor hanya melalui jalur penciptaan karya seni.

Untuk itulah, ISI Denpasar mewadahi perjuangan ini melalui wahana simposium yang digelar secara daring dan luring dengan menghadirkan maestro, empu seni, dan doktor penciptaan seni se-Indonesia. Selain narasumber juga hadir 135 peserta aktif dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia.

Simposium bertajuk "Mata Air Cipta Seni (Guru Besar Penciptaan Seni Indonesia)" serangkaian Festival Nasional Bali Sangga Dwip II itu telah dilaksanakan ISI Denpasar bekerja sama dengan Apesi pada Kamis (7/4) di kampus ISI Denpasar.

Hal yang menggembirakan, permasalahan ini telah mendapat perhatian dari Plt Dirjen Pendidikan Tinggi dan Ristek melalui Direktorat Sumber Daya telah menyusun rancangan peraturan menteri terkait tiga jalur pengusulan Profesor.

Pertama jalur akademik (Jurnal Internasional), kekaryaan/vokasi (karya seni atau desain monumental), dan profesional.

"Kita berharap rancangan peraturan dimaksud segera ditetapkan," ujar Prof Kun selaku Ketua Tim Perumus Simposium dan Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) itu.

Dengan demikian, usulan nama Doktor Penciptaan Seni yang telah memiliki reputasi dunia, seperti Dr Tisna Sanjaya dan Dr Rahman Sabur, dapat segera ditetapkan sebagai Profesor Penciptaan Seni, karena umur mereka rata-rata jelang pensiun.

Sementara itu Plt Dirjen Pendidikan Tinggi dan Ristek Kemdikbudristek Prof Ir Nizam PhD sebagai pembicara kunci memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan simposium nasional itu.

Ia mengingatkan kepada seluruh perguruan tinggi seni di Indonesia untuk terus tampil sebagai garda depan dalam menghasilkan seniman atau desainer, selain pengkaji seni dan pendidik seni.

Doktor Penciptaan Seni dalam pengusulan profesor dapat memakai jalur kekaryaan, yang dinilai karya seni atau desain monumental. Penilaian kekaryaan monumental ini, tentu membutuhkan masukan perguruan tinggi seni dan juga Apesi dalam menyusun formula penilaian yang solid.

Tentang rancangan tiga jalur pengusulan profesor juga dibenarkan Direktur Sumber Daya Diktiristek M. Sofwan Effendi, bahwa doktor penciptaan seni dapat menjadi profesor melalui jalur kekaryaan seni atau desain monumental.

"Tiga jalur ini, merupakan hal prinsip yang telah disepakati dalam rancangan peraturan menteri yang baru terkait pengusulan guru besar. Semoga secepatnya dapat ditetapkan, sehingga perguruan tinggi dapat melakukan langkah antisipasi," katanya.

Dalam simposium nasional itu juga menghadirkan pembicara undangan Dr Ignas Kleden, Prof Sardono W Kusumo, Dr Tisna Sanjaya, Dr Gusti Putu Sudarta, Dr FX Widaryanto, Dr Susas Rita Loravianti. Hadir pula secara daring Direktur Sumberdaya Ditjendiktiristek M Sofwan Effendi.

Pada simposium, yang perumusan hasil rekomendasi berlangsung hingga malam hari itu, juga ditampilkan doktor penciptaan seni dengan reputasi kekaryaan yang telah mereka lakukan.

Dr Tisna Sanjaya menyajikan karya-karya partisipatoris (Gerakan Sosial Seni Masyarakat) di Cigondewa dan Citarum, Bandung. Karya Tisna telah dipergelarkan pada Venesia Biennale, juga pada Juni mendatang di Dokumenta, Jerman.

Kemudian Dr Gusti Putu Sudarta mengeksplorasi penciptaan seni berbasis ritus, Dr FX Widaryanto membahas penciptaan seni pertunjukan dalam ekologi, dan Dr Susas Rita Loravianti melakukan penciptaan seni pertunjukan pada budaya Minangkabau dan Mentawai.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2022