Jakarta () – Para guru dari sejumlah sekolah menekankan pentingnya kolaborasi di tengah disrupsi pendidikan yang terjadi di Tanah Air.
 

“Kolaborasi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari pada era disrupsi ini. Kami diharapkan mampu memberi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa,” kata Guru SD Negeri 005 Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, Endang Gultom dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

 

Aktivitas belajar mengajar selama pandemi COVID-19, kata dia, perlu menjadi perhatian, terutama segi adaptasi teknologi.

 

Riset lembaga Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) pada sekitar 300 orang tua siswa SD dari 18 kabupaten dan kota yang berbeda, menemukan sebanyak 47 persen anak mereka tidak mendapatkan tugas dari guru, dibandingkan dengan anak yang memiliki akses internet untuk mengakses pembelajaran daring. Sebanyak 47 persen subjek tersebut adalah orang tua yang mayoritas bekerja sebagai petani dan berpendidikan SD.

 

Oleh karena itu, diperlukan banyak pelatihan tambahan bagi guru terkait variasi model penugasan atau pembelajaran berbasis teknologi, agar semua siswa berkesempatan memiliki akses pendidikan dan pengalaman belajar yang sama.

 

Chief Administration Officer Trakindo Yulia Yasmina mengatakan perjuangan guru Indonesia selama ini telah mendorong perubahan sosial di segala zaman. Guru memiliki peran krusial menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas.

 

Dalam menghadapi berbagai tantangan, para guru dan tenaga pengajar terus berusaha menemukan cara baru untuk meningkatkan kapasitas belajar para siswa.

 

“Kami senantiasa mengapresiasi perjuangan guru dan berupaya untuk terus mendukung dengan merancang banyak program yang ditujukan menunjang kebutuhan para guru dalam proses belajar mengajar,” ucap Yulia.

 

Pihaknya berupaya melakukan kegiatan penguatan pendidikan karakter, kecakapan hidup, dan budaya inovasi di sekolah-sekolah dasar dengan menempatkan siswa sebagai fokus kegiatan.

Baca juga: Pakar: Hari Guru Nasional momentum tingkatkan kompetensi

 

“Dalam pelaksanaannya, dukungan yang diberikan meliputi penerapan program pengembangan sekolah yang terstruktur, intervensi berbentuk pelatihan dan pendampingan berbasis sekolah, dengan fokus pada perbaikan tata kelola sekolah, penyiapan lingkungan pembelajaran, pembudayaan karakter, integrasi pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) dan Challenge-Based Learning (CBL), serta pelibatan orang tua dan masyarakat dalam membangun budaya inovasi lewat intrakurikuler dan ekstrakurikuler,” katanya.

 

Guru SDN 46 Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ni Nengah Martiyani mengatakan pihaknya mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan yang diperolehnya dari Generasi Trakindo.

 

“Kami menerapkan metode PjBL yang bekerja sama dengan pihak luar sehingga kami menjadi lebih berani mencoba, dan kami juga merasakan dampaknya pada siswa di mana mereka jadi lebih banyak bertanya, lebih kreatif, kolaboratif, dan inovatif. Antusiasme mereka meningkat. Mereka jadi lebih berani dalam mengambil keputusan dan menciptakan inovasi, khususnya inovasi yang berguna bagi lingkungan tempat tinggal sekitar mereka,” kata Martiyani.

 

Guru SD Inpers Nunbaun Delha, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Lantji Laky Djami mengatakan perubahan pada metode pembelajaran itu membawa dampak positif pada karakter siswa.

Baca juga: Pakar: Guru berperan penting dalam optimalisasi proses pembelajaran

 

“Awalnya mereka malu bertanya, saya dan guru lain membantu memotivasi dan meyakinkan agar mereka lebih percaya diri. Sesudah kunjungan pertama, mereka senang dan lebih berani bertemu dengan para narasumber,” kata Lantji.

Pewarta: Indriani
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © 2022