ESDM Siapkan 17 PLTS untuk Pos Perbatasan TNI di 2021

PLTS

Jakarta

Kementerian ESDM melalui pendanaan APBN tahun 2019 telah membangun 22 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat untuk Pos Jaga Pengaman Perbatasan (Pamtas) TNI dan telah beroperasi sejak awal tahun 2020 ini. Selanjutnya untuk tahun 2021, ESDM melalui Ditjen EBTKE kembali menganggarkan pembangunan PLTS Terpusat di 17 titik pos jaga TNI dengan kapasitas masing-masing 10 kWp.

“Saat ini tim teknis Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM tengah melakukan survei lokasi ke titik-titik Pos Pamtas di Provinsi NTT, Papua, Papua Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara dengan prioritas pos-pos yang belum berlistrik sebelumnya,” ujar keterangan resmi ESDM, dikutip Senin (23/11/2020).

Pemanfaatan potensi energi surya menjadi pilihan bagi pemerintah dalam penyediaan tenaga listrik bagi wilayah terdepan dan terluar yang belum terjangkau jaringan listrik PLN. Termasuk dalam hal ini penyediaan tenaga listrik bagi Pamtas TNI yang ada di perbatasan negeri.

Baca juga: Pertamina dan ITDC Kerja Sama Pengembangan EBT di Kawasan Pariwisata

Dengan kapasitas yang lebih besar, kehadiran PLTS ini nantinya selain dimanfaatkan untuk penyediaan energi listrik bagi Pos Pamtas TNI, juga diharapkan dapat bermanfaat bagi warga setempat yang belum menikmati aliran listrik.

“Banyak warga di wilayah perbatasan hanya dapat mengakses penerangan listrik yang bersumber dari tenaga diesel. Itu pun mesti menggunakan bahan bakar yang biayanya tidak murah dan kadang sulit didapat,” ungkapnya.

Kata Warga Perbatasan

Yusup Saori (78), salah satu ketua adat (Ondoafi) Kampung Yabanda, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua berbagi cerita tentang besarnya manfaat listrik dari PLTS di pos TNI bagi warga. Yusup dan warga Kampung Yabanda kini turut menikmati hadirnya listrik yang menyala 24 jam di pos jaga tersebut.

“Sekarang bisa nonton TV toh di sini, tidak khawatir habis bensin. Kalau di kampung ada yang terang listriknya pakai genset, beberapa saja,” ungkap Yusup.

Ia mengatakan untuk memenuhi kebutuhan penerangan, warga Yabanda membeli bensin yang seliternya Rp 15 ribu dan harus ke Arso Kota yang berjarak hingga 1 jam perjalanan. Saat ini listrik di Pos Yabanda telah menyala 24 jam sejak beroperasinya PLTS Terpusat berkapasitas 5 kiloWatt peak (kWp).

Baca juga: Jurus Agar RI Bisa Capai Target Produksi Minyak 1 Juta Barel per Hari

Listrik tersebut digunakan untuk penerangan di malam hari, menyalakan perangkat elektronik di pos, mengisi daya HP, dan menyalakan beberapa perangkat hiburan lain. Tak hanya di Yabanda, warga Kalilapar Distrik Waris juga merasakan manfaat lebih sejak hadirnya PLTS 5 kWp di Pos Pamtas Kalilapar. Paulus (26) menyempatkan singgah ke Pos untuk rehat dari aktivitas ladangnya yang berjarak 1 km dari Pos.

“Tak hanya bisa nonton TV, di sini bisa karaoke juga bersama Bapak TNI,” ungkapnya sembari tertawa.

Pos Yabanda dan Pos Kalilapar adalah 2 dari 9 Pos Pamtas TNI di Papua yang telah teraliri listrik menggunakan PLTS Terpusat. Pembangunan PLTS di Pos TNI Satgas Pamtas RI-Papua Nugini ini merupakan tindak lanjut Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kementerian ESDM dengan TNI pada tanggal 26 November 2018 tentang Pembangunan PLTS di Markas Besar TNI dan di Pos Satgas TNI.

(prf/ega)

Next Post

Trintech Client ABB Named Winner in 13th Annual Ventana Research Digital Leadership Awards

Sel Nov 24 , 2020
DALLAS, TX / ACCESSWIRE, Nov 24, 2020 – (ACN Newswire) – Trintech, a leading global provider of integrated Record to Report software solutions for the office of finance, announced today that its customer, ABB, a leading global engineering company, has been named the winner in the “Office of Finance” category […]