Ditampung di Medan, Oknum Rohingya Malah Bisnis Selundupkan Imigran

Tersangka kasus penyelundupan etnis Rohingya ke Aceh (Agus Setyadi-detikcom)

Banda Aceh

Nelayan Aceh melihat kapal yang diduga membawa ratusan imigran Rohingya. Usut punya usut ternyata Imigran Rohingya itu sengaja diselundupkan ke Aceh.

Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftach Cut Adek menuturkan, nelayan melihat imigran di jarak sekitar 80-100 mil laut dari pantai Lhokseumawe. Mereka disebut sudah beberapa hari terpantau berlayar.

Miftach menduga tujuan utama imigran Rohingya itu adalah ke Malaysia. Namun, mereka diduga ditolak Malaysia.

“Geografis dan arus yang membuat mereka lebih mudah sampai di Lhokseumawe. Maka Kerajaan Pase adalah yang sangat strategis untuk pelayaran,” ujar Miftach, kepada wartawan, Senin (19/10/2020).

Sebelum nelayan melihat kapal diduga membawa ratusan imigran Rohingya, dua gelombang imigran Rohingya mendarat di Lhokseumawe dan Aceh Utara pada waktu berbeda. Pertama 94 imigran diselamatkan nelayan Aceh Utara, pada Rabu (24/6) lalu. Mereka kemudian dibawa ke lokasi penampungan.

Baca juga: Terungkap! 99 Imigran Rohingya Ternyata Sengaja Diselundupkan ke Aceh

Dari kejadian itu kini terungkap dugaan penyelundupan manusia terkait 99 orang imigran etnis Rohingya yang ditemukan terdampar di Aceh pada Juni 2020. Empat orang penyelundup ditangkap dan dua orang masih diburu.

Direskrimum Polda Aceh, Kombes Sony Sonjaya, mengatakan penyelundupan 99 imigran Rohingya pada Juni 2020 itu diduga dilakukan atas perintah seorang warga Rohingya yang ditampung di Medan, berinisial AR. AR disebut sudah berada di penampungan sejak 2011.

Salah satu aktor yang memberi perintah menjemput puluhan Rohingya tersebut adalah AR yang masih diburu polisi. Dalam kasus ini, AR juga melibatkan imigran Rohingya lain yaitu SD.

“Aktornya dari Medan. Dia tinggal di Medan di bawah akomodasi IOM,” ujar Sony, dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Selasa (27/10/2020).

AR diduga mengajak seorang warga Rohingya lain, SD, yang masuk ke Indonesia pada 2011 untuk mencari kapal. Mereka kemudian diduga menghubungi seorang warga Lhokseumawe, F, untuk mencari kapal yang bakal dipakai untuk menjemput warga Rohingya lainnya di tengah laut.

Dalam kesepakatan awal, imigran Rohingya yang bakal dijemput berjumlah 36 orang. AR, SB, dan F juga melahirkan kesepakatan dengan membuat surat perjanjian sewa kapal.

F kemudian mengajak AS dan R menjemput warga Rohingya dari kapal besar yang sudah menunggu di tengah laut. Mereka berkomunikasi menggunakan sandi khusus.

“Titik koordinat sudah diberikan oleh AR sehingga ketika kapal penjemput dan kapal besar di tengah laut menunggu, mereka memberikan sandi. Setelah itu, baru turun 99 warga Rohingya dari kapal besar tersebut ke kapal penjemput,” kata Sony.

Baca juga: Polisi: 1 Imigran Rohingya yang Diselundupkan ke Aceh Keluar, Ada di Malaysia

Puluhan warga Rohingya itu akhirnya dijemput pada 22 Juni lalu. Tiga hari berselang, kapal penjemput rusak sehingga terapung di tengah laut. Kapal mereka selanjutnya diselamatkan oleh nelayan ke pesisir Pantai Lancok, Aceh Utara.

Sony menjelaskan, setelah melakukan penyelidikan, polisi akhirnya membekuk empat tersangka di sejumlah lokasi pada Kamis (22/10). Mereka adalah SD (warga Rohingya di Medan), AS, F, dan R.

“Kita masih memburu dua orang dalam kasus ini yaitu AR warga Rohingya yang memberi perintah dan AJ,” jelas Sony.

Dalam kasus ini AR sudah memberikan uang sewa kapal sebesar Rp 10 juta. Polisi masih menyelidiki besaran upah yang bakal diberikan untuk penjemput.

“Jadi terdamparnya Rohingya di Aceh bukan semata kemanusiaan. Di balik ini ada upaya menyelundupkan orang ke wilayah hukum Indonesia,” ujar Sony.

Polisi juga menciduk dua orang terkait penjemputan tiga warga Rohingya dari lokasi penampungan di Lhokseumawe. Ketiga imigran tersebut hendak dibawa ke Medan.

“Berinisial P dan satu lagi S warga Rohingya di Medan,” ujar Sony.

Selanjutnya

Halaman
1
2

Next Post

Mulai Besok! Pemkot Bogor Perpanjang PSBMK hingga 10 November

Sel Okt 27 , 2020
Jakarta – Wali Kota Bogor Bima Arya memperpanjang Pembatasan Sosial Berbasis Mikro dan Komunitas (PSBMK) di Kota Bogor mulai 28 Oktober 2020 hingga 10 November 2020. Menurutnya, saat ini kondisi Kota Bogor masih berada di zona oranye, sehingga kebijakan ini perlu dilanjutkan. “PSBMK dua minggu ke depan masih sama. Baru […]