Jakarta () – Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (14/12) mengatakan bahwa dirinya berharap COVID-19 tidak lagi menjadi darurat kesehatan global pada tahun depan.

Dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa Komite Darurat COVID-19 WHO pada bulan depan akan membahas kriteria untuk menyatakan berakhirnya status darurat COVID-19.

"Kami berharap suatu saat di tahun depan, kami dapat menyatakan bahwa COVID-19 tidak lagi menjadi darurat kesehatan global," ujarnya.

Namun, dia menambahkan bahwa virus SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi COVID-19, tidak akan hilang.

"Itu (virus SARS-CoV-2) akan tetap ada, dan semua negara perlu belajar menanganinya bersama dengan penyakit pernapasan lainnya seperti influenza dan RSV (respiratory syncytial virus), yang keduanya saat ini menyebar secara intensif di banyak negara," katanya.
 

   

Kepala WHO itu menuturkan salah satu pelajaran terpenting dari pandemi ini adalah bahwa semua negara perlu memperkuat sistem kesehatan masyarakat mereka untuk mempersiapkan, mencegah, mendeteksi, serta merespons wabah, epidemi, dan pandemi dengan cepat. 

Pelajaran penting lainnya adalah perlunya kerja sama yang lebih kuat dalam kolaborasi, alih-alih persaingan dan kekacauan yang menandai respons global terhadap COVID-19.

Sementara itu, Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis Program Darurat Kesehatan WHO, memperingatkan gelombang infeksi dan infeksi ulang akan terus berlanjut di seluruh dunia, saat jumlah kematian baru dalam sepekan yang dilaporkan beberapa negara masih berkisar 8.000 hingga 10.000 kasus.
 

   

Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, memperingatkan bahwa dunia masih belum mengetahui bagaimana virus SARS-CoV-2 akan berkembang di masa depan, dan ketidakpastian seperti itu meningkatkan risiko.

Sebelum kepala WHO itu mengakhiri status darurat COVID-19, keseimbangan perlu dibuat virus itu, termasuk dampak dan ketidakpastiannya, serta "apakah kita telah menangani masalah kerentanan dan ketahanan dalam sistem kesehatan kita atau belum," ujar Ryan. 

 

Pewarta: Xinhua
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © 2022