Juga bisa dengan membiasakan mengucapkan tolong, terima kasih, dan maaf,

Jakarta () – Analis pendampingan belajar di Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Widiyanti mengatakan, empati merupakan kunci untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap keragaman pada peserta didik.

"Empati itu menjadi kunci untuk menumbuhkan dan menanamkan rasa cinta keragaman," kata Widiyanti di Jakarta, Selasa.

Melalui empati, perempuan yang akrab disapa Widi itu mengatakan peserta didik dapat belajar mengenai perasaan, pemikiran, dan pengalaman orang lain yang pada akhirnya mereka akan terbiasa untuk memahami dan memposisikan diri secara positif.

Menurutnya, melatih empati dapat dilakukan dari hal-hal yang sangat sederhana seperti membiasakan untuk mendengar secara aktif ketika orang lain bercerita atau mengekspresikan perasaan.

"Juga bisa dengan membiasakan mengucapkan tolong, terima kasih, dan maaf," imbuh Widi.

Ia menambahkan bahwa ketika peserta didik memiliki sikap empati yang baik, mereka pun akan memiliki sikap toleransi yang baik pula terhadap banyaknya keragaman yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Selain dengan kemampuan dasar dan kemampuan sosial, Widi mengatakan lingkungan belajar yang inklusif juga menjadi aspek penting dalam menciptakan toleransi.

"Karena melalui inklusivitas, pendidik dapat merangkul semua anak dengan keragamannya, menerima mereka, dan memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan mereka," katanya.

Pengalaman positif antarkelompok yang berbeda berkat inklusivitas itu, menurut dia, akan mampu mengikis prasangka dan stereotip terhadap kelompok tertentu.

Puspeka Kemendikbudristek sendiri menurut dia telah melakukan berbagai upaya guna mendorong tumbuhnya semangat toleransi, salah satunya melalui produk kampanye berupa video yang disebarkan di kanal media sosial.

"Jadi dengan video, anak diajak untuk mengenali bahwa dirinya itu istimewa, begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya. Tentunya setelah belajar mengenali perbedaan di sekelilingnya, diharapkan anak dapat terbiasa dengan perbedaan di sekitarnya dan dapat merespon positif ketika bertemu teman yang berbeda dengan dia," ujar Widiyanti.

Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © 2022